Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

Monday, July 4, 2011

US. Independence Day

As The us of America celebrates Independence Day a vital question has been raised by several historians across the planet. Do Americans really perceive their own history? Are colleges in America teaching their kids the correct events or are politician's confusing children with their constant mistakes over how and why the us gained its independence from nice Britain. Studies are constantly showing that American's are unaware of what they're really celebrating.

The question that has to be asked is will history matter? in fact history matters, history is very important as a result of it relates the social expertise of our folks in concrete and detailed type. It deals with specific and distinctive events rather than with averages and abstractions. it's fascinated by the experiences of teams of standard people likewise as within the achievements of extraordinary persons. History arranges its materials in chronological order and so is of course led to worry the ideas of amendment and continuity, of development and decay.

A 2007 poll conducted by the U.S Mint revealed some terribly worrying results. twenty six per cent of the folks polled failed to grasp that the us gained its independence from nice Britain. Even additional worrying was the very fact that six per cent of the folks polled selected a special country. The countries included China, France, Japan Mexico and Spain. within the same poll, it showed that solely seven per cent of these surveyed might name the primary four presidents in order: George Washington, John Adams, Thomas Jefferson and James Madison. Thirty per cent knew that Jefferson was the third president, fifty seven per cent identified Jefferson because the main author of the Declaration of Independence, and fifty seven per cent knew that Washington led the Continental Army throughout the Revolutionary War.

It should be time to panic in relation to what American's realize their own history. Politicians should take responsibility; particularly when it involves the mistakes of the Tea Party. The movements darling, Herman Cain announced his candidacy for the U.S Presidency and cited words from the U.S Constitution to enforce his points. but the passage he was reading from was the Declaration of Independence, not the Constitution.

Further mistakes have embarrassed the movement. Sarah Palin's butchering of Paul Revere's role within the yankee Revolution or Michelle Bachmann's really revisionist mangling of the facts to say that the founding father's tried to abolish slavery is really surprising. The disdain for data, facts and learning are a few things the Tea Party and therefore the yankee right cannot hide behind.

The movement possesses yankee history wrong on such a big amount of occasions however rather than admitting their mistakes they need continued to confuse the population. Supporters of each Palin and Bachmann edited the Wikipedia page on Paul Revere and John Quincy Adams to mirror their mistakes. to do and canopy over such horrendous mistakes is criminal and therefore the 2 should be held to account.

The materials of history can't be understood if the content of different subjects has not been studied. the teachings of history can't be applied if they're not given direction and which means by the different social studies and therefore the other fields of human data.

Friday, May 27, 2011

Sejarah Piala Sudirman

Piala sudirman (Sudirman Cup) diambil dari nama dari mantan pebulutangkis Indonesia, Dick Sudirman (29 April 1922- 10 Juni 1986). Beliau adalah perintis Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dan menjadi ketua PBSI selama 22 tahun (1952-1963 dan 1967-1981). Beliau juga pernah menjabat sebagai Wakil Presiden IBF pada tahun 1975.

Piala Sudirman adalah turnamen champion bulutangkis tim campuran. Diadakan setiap 2 tahun sekali. Ada 5 pertandingan dalam setiap ronde: tunggal putra dan putri, ganda putra dan putri dan ganda campuran.

Turnamen Piala Sudirman pertama kali diadakan di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia pada tanggal 24-29 Mei 1989. Dalam turnamen Piala Sudirman ini tidak ada hadiah berupa uang, dimana pebulutangkis bermain mewakili negaranya masing-masing untuk mendapatkan rangking poin dalam urutan rangking dunia bulutangkis.

Piala sudirman adalah satu-satunya kompetisi internasional yang tidak ada babak kualifikasi. Tim yang bertanding dibagi menjadi 7 grup berdasarkan peforma mereka masing-masing. Hanya tim yang di grup 1 akan memiliki kesempatan untuk mengangkat piala tersebut, sedangkan tim yang di grup lain memperjuangkan promosi mereka. Tim yang paling bawah dalam grup akan di relegasi ke grup yang lebih bawah, kecuali grup final.

Indonesia memenangkan piala sudirman pada tahun 1986. Melalui sejarah turnamen piala sudirman hanya empat negara yang berhasil mencapai semifinal pada semua turnamen piala sudirman yaitu: Indonesia, korea selatan, china dan denmark. China meraih 5 kali menang, diikuti Korea Selatan 4 kali, dan Indonesia 1 kali menang.

Tropi Piala Sudirman
Tinggi piala sudirman 80 cm. Terbuat dari 22 karat (92%) emas campuran perak solid. Bentuk badan piala sudirman adalah octagonal bagian bawah piala terbuat dari kayu jati. Bentuk badan piala adalah berbentuk shuttlecock dan bagian atas berbentuk replika candi borobudur. Gagang piala berbentuk stamens, sebagai simbol bibit dari bulutangkis. Piala tersebut dibuat perusahaan ahli perak dari Bandung seharga 15.000 US dollar.

Monday, May 16, 2011

Sejarah Pemberontakan Trunojoyo

Raden Trunojoyo, sering pula ditulis Trunajaya, adalah seorang bangsawan Madura yang pernah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Amangkurat I dan Amangkurat II dari Mataram. Pasukannya yang bermarkas di Kediri pernah menyerang dan berhasil menjarah keraton Mataram tahun 1677, yang mengakibatkan Amangkurat I melarikan diri dan meninggal dalam pelariannya. Trunojoyo akhirnya berhasil dikalahkan Mataram dengan bantuan dari VOC pada penghujung tahun 1679.

Penaklukan Madura
Pada tahun 1624 Sultan Agung menaklukkan pulau Madura. Raden Prasena, salah seorang bangsawan Madura, ditawan dan dibawa ke Mataram. Karena ketampanan dan kelakuannya yang baik, Sultan Agung menyukai Raden Prasena. Ia kemudian diangkat menjadi menantu dan dijadikan penguasa bawahan Mataram untuk wilayah Madura Barat, dengan gelar Panembahan Cakraningrat atau Cakraningrat I. Cakraningrat I lebih banyak berada di Mataram daripada memerintah di Madura. Anak Cakraningrat dari selir, bernama Raden Demang Melayakusuma, menjalankan pemerintahan sehari-hari di Madura Barat. Mereka berdua sekaligus juga menjadi panglima perang bagi Mataram.

Setelah Sultan Agung wafat, pemerintahan Mataram dipegang oleh Amangkurat I, yang memerintah dengan keras dan menjalin persekutuan dengan VOC. Hal ini menimbulkan gelombang ketidak-puasan pada kerabat istana dan para ulama, yang ditindak dengan tegas oleh Amangkurat I. Pertentangan yang sedemikian hebat antara Amangkurat I dan para ulama bahkan akhirnya berujung pada penangkapan, sehingga banyak ulama dan santri dari wilayah kekuasaan Mataram dihukum mati.

Pangeran Alit, adik Amangkurat I sendiri pada tahun 1656 melakukan pemberontakan. Cakraningrat I dan Demang Melayakusuma diutus untuk memadamkan pemberontakan berhasil dalam tugasnya, akan tetapi keduanya tewas dan dimakamkan di pemakaman Mataram di Imogiri. Penguasaan Madura kemudian dipegang oleh Raden Undagan, adik Melayakusuma yang kemudian bergelar Panembahan Cakraningrat II. Sebagaimana ayahnya, Cakraningrat II juga lebih banyak berada di Mataram daripada memerintah di Madura.

Pemberontakan Trunojoyo
Ketidakpuasan terhadap Amangkurat I juga dirasakan putra mahkota yang bergelar Pangeran Adipati Anom. Namun Adipati Anom tidak berani memberontak secara terang-terangan. Diam-diam ia meminta bantuan Raden Kajoran alias Panembahan Rama, yang merupakan ulama dan termasuk kerabat istana Mataram. Raden Kajoran kemudian memperkenalkan menantunya, yaitu Trunojoyo putra Raden Demang Melayakusuma sebagai alat pemberontakan Adipati Anom.

Trunojoyo dengan cepat berhasil membentuk laskar, yang berasal dari rakyat Madura yang tidak menyukai penjajahan Mataram. Pemberontakan Trunojoyo diawali dengan penculikan Cakraningrat II, yang kemudian diasingkannya ke Lodaya, Kediri. Tahun 1674 Trunojoyo berhasil merebut kekuasaan di Madura, dia memproklamirkan diri sebagai raja merdeka di Madura barat, dan merasa dirinya sejajar dengan penguasa Mataram. Pemberontakan ini diperkirakan mendapat dukungan dari rakyat Madura, karena Cakraningrat II dianggap telah mengabaikan pemerintahan.

Laskar Madura pimpinan Trunojoyo, kemudian juga bekerja sama Karaeng Galesong, pemimpin kelompok pelarian warga Makassar pendukung Sultan Hasanuddin yang telah dikalahkan VOC. Kelompok tersebut berpusat di Demung, Panarukan. Mereka setuju untuk mendukung Trunojoyo memerangi Amangkurat I dan Mataram yang bekerja sama dengan VOC. Trunojoyo bahkan mengawinkan putrinya dengan putra Karaeng Galesong untuk mempererat hubungan mereka. Selain itu, Trunojoyo juga mendapat dukungan dari Panembahan Giri dari Surabaya yang juga tidak menyukai Amangkurat I karena tindakannya terhadap para ulama penentangnya.

Di bawah pimpinan Trunojoyo, pasukan gabungan orang-orang Madura, Makassar, dan Surabaya berhasil mendesak pasukan Amangkurat I. Kemenangan demi kemenangan atas pasukan Amangkurat I menimbulkan perselisihan antara Trunojoyo dan Adipati Anom. Trunojoyo diperkirakan tidak bersedia menyerahkan kepemimpinannya kepada Adipati Anom. Pasukan Trunojoyo bahkan berhasil mengalahkan pasukan Mataram di bawah pimpinan Adipati Anom yang berbalik mendukung ayahnya pada bulan Oktober 1676. Tanpa diduga, Trunojoyo berhasil menyerbu ibukota Mataram, Plered. Amangkurat I terpaksa melarikan diri dari keratonnya dan berusaha menyingkir ke arah barat, akan tetapi kesehatannya mengalami kemunduran.

Setelah terdesak ke Wonoyoso, ia akhirnya meninggal di Tegal dan dimakamkan di suatu tempat yang bernama Tegal Arum. Sesudahnya, Susuhunan Amangkurat I kemudian juga dikenal dengan julukan Sunan Tegal Arum. Adipati Anom dinobatkan menjadi Amangkurat II, dan Mataram secara resmi menandatangani persekutuan dengan VOC untuk melawan Trunojoyo. Persekutuan ini dikenal dengan nama Perjanjian Jepara (September 1677) yang isinya Sultan Amangkurat II Raja Mataram harus menyerahkan pesisir Utara Jawa jika VOC membantu memenangkan terhadap pemberontakan Trunojoyo.

Trunojoyo yang setelah kemenangannya bergelar Panembahan Maduretno, kemudian mendirikan pemerintahannya sendiri. Saat itu hampir seluruh wilayah pesisir Jawa sudah jatuh ke tangan Trunajaya, meskipun wilayah pedalaman masih banyak yang setia kepada Mataram. VOC sendiri pernah mencoba menawarkan perdamaian, dan meminta Trunojoyo agar datang secara pribadi ke benteng VOC di Danareja. Trunojoyo menolak tawaran tersebut.

Kekalahan oleh VOC
Setelah usaha perdamaian tidak membawa hasil, VOC di bawah pimpinan Gubernur Jendral Cornelis Speelman akhirnya memusatkan kekuatannnya untuk menaklukkan perlawanan Trunojoyo. Di laut, VOC mengerahkan pasukan Bugis di bawah pimpinan Aru Palakka dari Bone untuk mendukung peperangan laut melawan pasukan Karaeng Galesong; dan mengerahkan pasukan Maluku di bawah pimpinan Kapitan Jonker untuk melakukan serangan darat besar-besaran bersama pasukan Amangkurat II.

Pada April 1677, Speelman bersama pasukan VOC berangkat untuk menyerang Surabaya dan berhasil menguasainya. Speelman yang memimpin pasukan gabungan berkekuatan sekitar 1.500 orang berhasil terus mendesak Trunojoyo. Benteng Trunojoyo sedikit demi sedikit dapat dikuasai oleh VOC. Akhirnya Trunojoyo dapat dikepung, dan menyerah di lereng Gunung Kelud pada tanggal 27 Desember 1679 kepada Kapitan Jonker. Trunojoyo kemudian diserahkan kepada Amangkurat II yang berada di Payak, Bantul. Pada 2 Januari 1680, Amangkurat II menghukum mati Trunojoyo.

Keadaan sesudahnya
Dengan padamnya pemberontakan Trunojoyo, Amangkurat II memindah keraton Mataram yang sudah ambruk itu ke Kartasura. Mataram berhutang biaya peperangan yang sedemikian besarnya kepada VOC, sehingga akhirnya kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa diserahkan sebagai bayarannya kepada VOC. Cakraningrat II juga diangkat kembali oleh VOC sebagai penguasa di Madura, dan sejak saat itu VOC pun terlibat dalam penentuan suksesi dan kekuasaan di Madura.

Sejarah Adipati Pragola

Adipati Pragola dari Pati merujuk pada dua orang tokoh yang keduanya pernah memberontak terhadap Kesultanan Mataram. Pada umumnya, para sejarawan menyebut Pragola I untuk yang menentang Panembahan Senopati tahun 1600, dan Pragola II untuk yang menentang Sultan Agung tahun 1627.

Adipati Pragola yang Pertama
Nama aslinya adalah Wasis Jayakusuma putra Ki Ageng Panjawi, saudara seperjuangan Ki Ageng Pamanahan. Kakak perempuannya yang bernama Waskitajawi menikah dengan Sutawijaya putra Ki Ageng Pamanahan, dan melahirkan Mas Jolang.

Sutawijaya kemudian mendirikan Kesultanan Mataram tahun 1587, sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati. Sementara itu, Wasis Jayakusuma menggantikan ayahnya sebagai bupati Pati bergelar Pragola. Secara suka rela ia tunduk kepada Mataram karena kakaknya dijadikan permaisuri utama bergelar Ratu Mas, sedangkan Mas Jolang sebagai putra mahkota.

Pada tahun 1590 Pragola ikut membantu Mataram menaklukkan Madiun. Pemimpin kota itu yang bernama Rangga Jemuna (putra bungsu Sultan Trenggana Demak) melarikan diri ke Surabaya. Putrinya yang bernama Retno Dumilah diambil Panembahan Senopati sebagai permaisuri kedua.

Peristiwa ini membuat Pragola sakit hati karena khawatir kedudukan kakaknya (Ratu Mas) terancam. Ia menganggap perjuangan Panembahan Senopati sudah tidak murni lagi. Pemberontakan Pati pun meletus tahun 1600. Daerah-daerah di sebelah utara Pegunungan Kendeng dapat ditaklukan Pragola.

Panembahan Senopati mengirim Mas Jolang untuk menghadapi pemberontakan Pragola. Kedua pasukan bertemu dekat Prambanan. Pragola dengan mudah melukai keponakannya itu sampai pingsan.

Panembahan Senopati berangkat untuk menumpas Pragola. Menurut Babad Tanah Jawi, Ratu Mas sudah merelakan kematian adiknya. Pertempuran terjadi di Prambanan. Pasukan Pragola kalah dan mundur ke Pati. Panembahan Senopati mengejar dan menghancurkan kota itu. Akhirnya, Adipati Pragola pun hilang tidak diketahui nasibnya.
 

Adipati Pragola yang Kedua
Pragola yang kedua adalah putra Pangeran Puger putra Panembahan Senopati. Ketika Mas Jolang naik takhta menggantikan Panembahan Senopati tahun 1601, Pangeran Puger iri karena merasa usianya lebih tua.

Pangeran Puger yang saat itu menjabat sebagai adipati Demak akhirnya memberontak tahun 1602 tidak mau mengakui kedaulatan adiknya. Pemberontakan ini berakhir tahun 1605 setelah Pangeran Puger ditangkap dan dibuang ke Kudus.

Putra Pangeran Puger diangkat sebagai adipati Pati bergelar Pragola. Ia juga memberontak terhadap Mataram saat dipimpin sepupunya, yaitu Sultan Agung putra Mas Jolang tahun 1627. Pemberontakan ini dipicu oleh hasutan Tumenggung Endranata bupati Demak.

Sultan Agung memimpin langsung penumpasan pemberontakan Pati. Menurut naskah babad, Pragola memakai baju zirah (dalam bahasa Jawa disebut kere waja) peninggalan seorang Portugis bernama Baron Sekeber sehingga tidak mempan senjata apa pun.

Konon dikisahkan, Baron Sekeber adalah juru taman istana Pati. Ia terbukti berselingkuh dengan selir kesayangan Pragola sampai memiliki dua orang anak kembar. Pragola pun membunuh Baron Sekeber dan kedua anaknya, tapi mengampuni selirnya tersebut.

Arwah kedua anak Baron Sekeber datang untuk menuntut balas ketika pasukan Mataram menyerang Pati. Yang satu menyusup pada baju zirah milik Pragola, yang satunya menyusup pada tombak pusaka Kyai Baru Klinting milik Sultan Agung.

Abdi pemegang payung Sultan Agung yang bernama Ki Nayadarma minta izin menghadapi amukan Pragola. Sultan Agung pun meminjamkan tombak Baru Klinting kepadanya. Pertempuran akhirnya berakhir dengan kematian Pragola di tangan Nayadarma.

Sepeninggal Pragola, pasukan Mataram bergerak merampas harta kekayaan Pati. Selir Pragola (yang pernah berselingkuh dengan Baron Sekeber) diambil Tumenggung Wiraguna, seorang pegawai senior Mataram. Selir ini kemudian terkenal dengan nama Rara Mendut, yang kisah cintanya terhadap Pranacitra (pengawal Wiraguna) menjadi legenda di tanah Jawa.

Sunday, May 1, 2011

Sejarah Pramuka

Gagasan Boden Powell yang cemerlang dan menarik itu akhirnya menyebar ke berbagai negara termasuk Netherland atau Belanda dengan nama Padvinder. Oleh orang Belanda gagasan itu dibawa ke Indonesia dan didirikan organisasi oleh orang Belanda di Indonesia dengan nama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda).

Oleh pemimpin-pemimpin gerakan nasional dibentuk organisasi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia yang baik dan menjadi kader pergerakan nasional. Sehingga muncul bermacam-macam organisasi kepanduan antara lain JPO (Javaanse Padvinders Organizatie) JJP (Jong Java Padvindery), NATIPIJ (Nationale Islamitsche Padvindery), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery), HW (Hisbul Wathon).

Dengan adanya larangan pemerintah Hindia Belanda menggunakan istilah Padvindery maka K.H. Agus Salim menggunakan nama Pandu atau Kepanduan.

Dengan meningkatnya kesadaran nasional setelah Sumpah Pemuda, maka pada tahun 1930 organisasi kepanduan seperti IPO, PK (Pandu Kesultanan), PPS (Pandu Pemuda Sumatra) bergabung menjadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Kemudian tahun 1931 terbentuklah PAPI (Persatuan Antar Pandu Indonesia) yang berubah menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia) pada tahun 1938.

Pada waktu pendudukan Jepang Kepanduan di Indonesia dilarang sehingga tokoh Pandu banyak yang masuk Keibondan, Seinendan dan PETA.

Setelah tokoh proklamasi kemerdekaan dibentuklah Pandu Rakyat Indonesia pada tanggal 28 Desember 1945 di Sala sebagai satu-satunya organisasi kepanduan.

Sekitar tahun 1961 kepanduan Indonesia terpecah menjadi 100 organisasi kepanduan yang terhimpun dalam 3 federasi organisasi yaitu IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia) berdiri 13 September 1951, POPPINDO (Persatuan Pandu Puteri Indonesia) tahun 1954 dan PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia)

Menyadari kelemahan yang ada maka ketiga federasi melebur menjadi satu dengan nama PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia).

Karena masih adanya rasa golongan yang tinggi membuat Perkindo masih lemah. Kelemahan gerakan kepanduan Indonesia akan dipergunakan oleh pihak komunis agar menjadi gerakan Pioner Muda seperti yang terdapat di negara komunis. Akan tetapi kekuatan Pancasila dalam Perkindo menentangnya dan dengan bantuan perdana Menteri Ir. Juanda maka perjuangan menghasilkan Keppres No. 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka yang pada tanggal 20 Mei 1961 ditandatangani oleh Pjs Presiden RI Ir Juanda karena Presiden Soekarno sedang berkunjung ke Jepang.

Di dalam Keppres ini gerakan pramuka oleh pemerintah ditetapkan sebagai satu-satunya badan di wilayah Indonesia yang diperkenankan menyelenggarakan pendidikan kepramukaan, sehingga organisasi lain yang menyerupai dan sama sifatnya dengan gerakan pramuka dilarang keberadaannya.

Saturday, February 26, 2011

Great Sikh Painter S.SOBHA SINGH

S.SOBHA SINGH
SOBHA SINGH (29 November 1901 - 21 August 1986), famous Sikh painter, well known especially for his portraits of the Sikh Gurus was born on 29 November 1901 in a Ramgarhia family of Sri Hargobindpur, in Gurdaspur district of the Punjab. His father, Deva Singh, had been in the Indian cavalry.

Sobha Singh was skilled in the western classical technique of oil painting. His themes came from the romantic lore of the Punjab, Indian epics and from the Sikh religious tradition. His paintings of Punjabi lovers Sohni and Mahinval and Heer and Rahjha became very famous.

Sohni Mahinval was rated to be a real masterpiece; its impact upon the Punjabi consciousness was of a lasting nature. What gave Sobha Singh the utmost satisfaction was his paintings of the Gurus of the Sikh faith.
Above painting will be sold on March 24 sale of Indian and Southeast Asian Art at Sotheby’s New York.

Portrait By Sobha Singh

The base price of Maharaja Ranjit Singh's Portrait has been kept at $3-4 lakh .


Numerous awards and distinctions were conferred on him, the prominent being the title of State Artist of the Punjab Government in 1974 and the Padma Shri of the Government of India in 1983. He was conferred upon the degree of Doctor of Literature (Honoris Causa) by Punjabi University, Patiala.

A Girl Portrait By Sobha Singh

The Ministry of Information and Broadcasting released a documentary film titled Painter of the People based on his life and works. The British Broadcasting Corporation also made a documentary on him in 1984. Indian Government issued postal stamp in honor of Sir Sobha Singh in 2001.

Heer Ranjha Portrait By Sobha Singh

Tuesday, February 8, 2011

Article About Qila Mubarak Situates in Bathinda City

Bathinda City

Qila Mubarak is the one of the oldest fort situates in Bathinda city.This fort is also the National Monument of India.This fort is also known as Bathinda Fort.It is the tourist place for the visitors coming in Bathinda.Guru Gobind Singh ji stayed in this fort.This fort shows the architecture of the ancient India.In this fort there is also a Gurudwara.Peoples from the city comes here for worship.This gurudwara is also very old.

Bathinda City

History of Qila Mubarak
YearEvent
90-110 ADEmperor Kanishka and Raja Dab built it.
179 ADBathinda town was established by Bhatti Rao.
1004 ADSultan Mahmud of Ghazni captured it.
1045 ADPir Haji Rattan settled here for meditation.
1189 ADSultan Mohammed Ghori captured it.
1191 ADRaja Prithvi Raj Chauhan recaptured it.
1240 ADRazia Sultan prisoned here.
1515 ADGuru Nanak Dev visited this place.
1665 ADGuru Teg Bahadur visited this place.
1705 ADGuru Gobind Singh visited this place.
1754 ADMaharaja Ala Singh captured it.
1835 ADMaharaja Karam Singh built a Gurdwara here.
2005 ADBegin fort repairs sponsored by Akal Society of America.



The old awe-inspiring retic of its past splendour is the fort at Bathinda which is biggest than its competitors at Lahore, Phillour and Hanumangarh. It stands as a gigantic sentinel in the heart of the town.

Bathinda City

Bathinda City

Every year, Sri Guru Gobind Singhji also stayed in this fort. It has long fascinating history behind it.

Guru Gobind singh ji killed a devil at this place in 17th century.

Qila Mubarak, a Historical National Monument of India, forms the heart of the city of Bathinda, in Indian Punjab. It has been in existence for approximately 1900 years in its current form. Some sources have the structure in its original, primitive form dating back to the Harrapa period. It was here that Razia Sultan, the first woman to take charge of the Delhi throne was incarcerated on her defeat and dethroned. The bricks of the fort date back to the Kushana period when emperor Kanishka ruled over Northern India/Bactria. Raja Dab along with emperor Kanishka are believed to have built the fort.

Friday, February 4, 2011

Serat Gatholoco

Gatholoco, suluk karya sastra Jawa klasik, berbahasa Jawa baru, berbentuk puisi tembang macapat, bernafaskan Islam dan berisi ajaran tasawuf atau mistik. Waktu penulisan pada hari senin. Pahing tanggal, 8 Jumadilawal 1962 Jawa. Isi teks menceritakan perbincangan atau perdebatan antara Gatholoco dengan Dewi Perjiwati mengenai hakikat pria-wanita, perilaku dalam asmaragama dan asal terjadinya benih manusia.

Tokoh Gatholoco digambarkan sebagai seorang anak raja Suksmawisesa dari kerajaan Jajarginawe yang berparas jelek sekali. Ia mempunyai seorang hamba yang sangat setia, bernama Darmagandhul yang tidak kalah jeleknya dari dirinya. Gatholoco disuruh bertapa oleh ayahnya agar ia menjadi orang yang sangat pandai berdebat, pandai tulis-menulis, dan pandai berhitung tanpa guru. Kelak ia akan mendapat lawan tangguh dalam berdebat mengenai kawruh kasunyatan “ Ilmu Sejati “ yang bernama Dewi Perjiwati.

Diceritakan tentang tiga orang guru mengaji, yaitu Abduljabar, Abdulmanab, Abdulgharib. Ketiganya amat fasih dalam membaca Al Quran, Fikih dan Nahwu. Mereka berjumpa dengan Gatholoco dalam perjalanan sewaktu mencari lawan berdebat tentang ilmu yang dikuasinya. Terjadilah perdebatan antara ketiga guru mengaji tersebut dengan Gatholoco. Perdebatan meliputi tentang arti orang yang memiliki ilmu, haram, atau najis dan arti halal. Gatholoco memenangkan perdebatan dan akhirnya mengajak mereka berteka-teki.

Teka-teki Gatholoco mengenai : wayang, dalang, blencong, dan kelir. Dari keempat itu manakah yang lebih tua ? perdebatan dimenangkan oleh Gatholoco. Ia menerangkan juga tentang hakikat : wayang, dalang, kelir, blencong dan gamelan. Ketiga guru mengaji itu akhirnya meninggalkan Gatholoco dan menuju Cepekan. Di Cepekan terdapat tiga orang guru mengaji, yaitu : Kasan Mustahal, Kasan Besari, dan Ki Duljalal. Mereka ini didatangi oleh ketiga ketiga orang guru mengaji yang kalah berdebat dengan Gatholoco. Mereka menceritakan tentang kekalahan dalam perdebatan. Gatholoco dicari dan diajaknya ke Pondok Cepekan untuk diajak berdebat tentang ilmu sejati. Perdebatan antara Gatholoco dengan ketiga orang guru mengaji di Pondok Cepekan berlanjut. Akhirnya dimenangkan oleh Gatholoco, karena mereka kalah, maka diusirlah Gatholoco dari pondok tersebut. Pada mulanya Gatholoco tidak mau pergi kalau tidak diberi uang. Akhirnya, ia meninggalkan pondok tersebut untuk melanjutkan pengembaraannya.

Perjalanan Gatholoco sampai di gunung Endragiri dan bertemu dengan seorang pertapa yang bernama Dewi Perjiwati yang di dampingi oleh para emban dan cantriknya. Sebelum bertemu dengan Dewi Perjiwati terpaksa harus menghadapi para emban dan cantriknya yang mendampinginya. Para emban dan cantrik tersebut memberikan teka-teki untuk dijawab oleh Gatholoco. Ternyata teka-teki yang diberikan dapat dijawab oleh Gatholoco dengan baik, kemudian Gatholoco dapat bertemu dengan Dewi Perjiwati, maka terjadilah tanya jawab. Pertanyaan yang diajukan oleh Dewi Perjiwati adalah tentang arti kalimah Sahadat, arti pria-wanita dan suaimi istri. Apabila Gatholoco dapat menebak dengan betul maka sebagai imbalannya adalah Dewi Perjiwati bersedia menjadi istrinya. Ternyata Gatholoco dapat memenangkan perdebatan tersebut sehingga Dewi Perjiwati terpaksa mau menjadi istri Gatholoco walaupun dengan berat hati. Para emban dan cantrik memberikan saran agar Gatholoco diajaknya masuk ke gua, setelah sampai di dalamnya maka pintu gua segera ditutup.

Darmagandhul, hamba setia Gatholoco memperingatkan tetapi tidak dihiraukan , ia mengalami pingsan di dalam gua. Setelah sampai diluar ia baru sadar bahwa telah terjebak oleh tipu Dewi Perjiwati. Karena merasa terjebak, maka Gatholoco merasa malu, akhirnya ia masuk kembali ingin berperang dengan Dewi Perjiwati. Keduanya ternyara sama-sama sakti dan tidak ada yang menyerah. Tidak lama kemudian lahirlah seorang bayi dari rahim Dewi Perjiwati, baik Dewi Perjiwati maupun Gatholoco sangat sayang melihat anak tersebut. Ia bertanya kepada Dewi Perjiwati, sebetulnya anak siapakah bayi itu ? dijawabnya. Ia adalah anak dari Gatholoco sendiri. Anak tersebut kelak diberi ajaran tentang rukun Islam.

Tuesday, January 18, 2011

Pterosaurs 10 Times Heavier than Biggest Birds

Today's heaviest flying bird, the 48-pound Kori Bustard, was a lightweight compared to dinosaur-era flying reptiles known as pterosaurs, according to a new study that presents a novel method for estimating pterosaur weight.

Calculations based on footprints left behind by pterosaurs, also known as pterodactyls, reveal these animals weighed up to 320 pounds. The study, published in the journal Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology, is believed to be the first to use fossilized footprints to infer the body weight of an extinct animal.

Prior studies utilized everything from pterosaur bone mass to volumetric modeling to figure out how much the prehistoric "winged lizards" weighed.

"My study provides good independent evidence that large pterosaurs were quite heavy," author Tai Kubo told Discovery News.

Kubo, a paleontologist at the Fukui Prefectural Dinosaur Museum in Japan, began his study by collecting trackways from 17 species of living reptiles housed at Ueno Zoo in Tokyo. These animals included crocodiles, lizards, tortoises and a frog.

"I went to the zoo every week for two years," he said. "Since some reptiles, such as crocodiles, are very reluctant to move, and often it is very difficult to predict which way they will move, I had to just keep waiting for a whole day to collect one trackway."

After collecting the footprints, Kubo noted the weights of each animal. He determined there was a connection between weight and a calculated relationship between the individual's fore and hind limb foot sizes measured from their tracks.

Kubo then took this mathematical formula and applied it to fossilized trackways that had previously been attributed to pterosaurs. He found that many pterosaurs were at least 10 times heavier than the heaviest modern flying birds.

Michael Habib, a Chatham University assistant professor of biology, told Discovery News that he thinks Kubo's new method for estimating pterosaur weight is "sensible and interesting." He indicated, however, that the jury is still out on just how heavy the largest pterosaurs really were.

Habib mentioned that prior estimates, using other methods, concluded that big pterosaurs weighed anywhere from 441 to 573 pounds.

"I suspect that the trackway method of body mass estimation will be made more precise in the future," Habib said.

Donald Henderson, curator of dinosaurs at the Royal Tyrrell Museum, wondered if Kubo's data might have been different if he had used footprints made by living birds instead of the other animals Kubo selected for his study.

"I think the largest pterosaurs -- things like Quetzalcoatlus -- reached several hundred kilograms," Henderson told Discovery News. "Unfortunately, we have nothing even beginning to resemble a complete skeleton for the largest pterosaurs, so their body shapes and volumes, and associated body masses, are not known with any certainty."

Kubo, however, holds that "footprints can be a good indicator of body weight."

In the future, he hopes to apply his weight estimation calculations to dinosaurs.

"Before applying the method to dinosaurs," Kubo said, "we have to obtain a lot of data about body weight and footprints of extant birds and mammals, since their postures are more similar to those of dinosaurs than those of extant reptiles and amphibians."

He added, "I think weight can be measured from any footprint, and the result can tell us a lot of things."

Discoverynews.com

Thursday, January 6, 2011

Sunan Paku Buwana dan Syariat Islam

Sunan Paku Buwana IV dalam pandangan masyarakat Surakarta tidak saja dikenal sebagai pujangga yang mumpuni, tetapi juga dipercaya sebagai raja yang taat menjalankan ajaran agama islam. Ketaatan dalam menjalankan agama Islam, seperti tidak meninggalkan shalat lima waktu, shalat Jum’at, mengharamkan minuman keras dan candu, sudah terlihat semenjak muda dan masih berstatus sebagai Putra Mahkota. Kegemarannya dalam menimba ilmu agama dari kyai dan guru agama menjadikan dirinya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang luas tentang agama Islam.

Keluasan pengetahuan islam yang dimiliki oleh raja Surakarta ini dapat dilihat dari Serat-Serat piwulang karyanya, seperti Serat Wulang Reh, Wulang Dalem, dan Wulang Brata Sunu. Sebagian besar isi Serat Piwulung Sunan Paku Buwana IV disesuaikan dengan ajaran islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Bahkan tidak jarang dalam serat piwulang karyanya, dia mengutip langsung ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist demi memperkuat nasehat yang disampaikannya. Kegemaran Sunan Paku Buwana IV dalam mencari ilmu agama telah mempertemukannya dengan berbagai macam guru agama dan kyai. Ada kalanya kyai dan guru agama mempunyai pengaruh kuat terhadap raja Surakarta, sehingga tidak saja mempengaruhi sikap keagamaannya melainkan juga sikap politiknya. Peristiwa pakepung yang terjadi di awal pemerintahannya merupakan suatu bukti adanya pengaruh kyai dan guru agama terhadap sikap politik yang dijalankannya.

Peristiwa Pakepung
Peristiwa pakepung terjadi pada tahun 1790, ketika Sunan Paku Buwana IV baru dua tahun dinobatkan sebagai raja Surakarta. Peristiwa ini tidak saja mempunyai latar belakang politis yaitu adanya persaingan antara kerajaan-kerajaan penerus dinasti Mataram, melainkan juga latar belakang keagamaan. Kuatnya latar belakang keagamaan dalam peristiwa pakepung karena tokoh-tokoh utamanya yang menggerakkan kejadian ini mempunyai sikap dan semangat keagamaan yang tinggi, khususnya agama Islam. Adanya latar belakang semangat keagamaan yang kuat dari peristiwa ini menyebabkan banyak penulis menyebutnya sebagai peristiwa gerakan keagamaan. H.J. de Graaf misalnya, menyebut peristiwa pakepung memiliki beberapa kesamaan dengan gerakan Wahabiyah di tanah Arab.

Peristiwa pakepung meskipun hanya berlangsung dalam waktu singkat (Oktober-Desember 1790), namun kondisi-kondisi yang melatar belakanginya dapatlah dirunut hingga tahun-tahun sebelumnya. Peristiwa pakepung sebagaimana diceritakan dalam babad pakepung, berawal dari pengangkatan empat kyai dan santri, yaitu Kyai Wiradigda, Panengah, Bahman, dan Nur Saleh sebagai abdi dalem. Kyai ini mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Sunan Paku Buwana IV, sehingga menjadi abdi dalem kinasih (abdi dalem terpercaya).

Pengaruh keempat abdi dalem kyai ini ternyata begitu besar pada Sunan, sehingga banyak keputusan-keputusan politik didasarkan pada nasehatnya. Sunan Paku Buwana IV kemudian mulai mengadakan perubahan - perubahan, seperti :
  1.  Abdi dalem yang tidak patuh pada syari’at agama ditindak, digeser dan bahkan ada yang dipecat seperti yang dialami oleh Tumenggung Pringgalaya dan Tumenggung Mangkuyuda.
  2.  Sunan Paku Buana IV juga mengharamkan minuman keras dan opium, sebagaimana ajaran agama Islam. Disamping itu setiap hari Jum’at, Sunan ini pergi ke Masjid besar untuk melaksanakan Shalat Jum’at. Bahkan Sunan Paku Buwana IV sering bertindak sebagai Khatib atau pemberi kutbah pada shalat tersebut.
Peristiwa yang terjadi di keraton Surakarta ini dengan sendirinya menimbulkan kekhawatiran pihak Kumpeni dan Kasultanan Yogyakarta. Untuk memperoleh kejelasan tentang perubahan dan situasi yang ada di keraton Kasunanan Surakarta, Kumpeni kemudian mengirim utusannya. Utusan ini dipimpin langsung oleh Gubernur dan Direktur Java’s Noord-en Ooskust yang berpusat di Semarang, yaitu Jan Greeve. Dari tanggal 16 September hingga 6 Oktober 1790, Jan Greeve berada di Surakarta. Tuntutannya satu, yakni Sunan Surakarta harus menyerahkan keempat orang abdi dalem kepercayaannya karena mereka inilah yang dianggap sebagai biang keladi peristiwa.

Setelah terjadi negosiasi, namun buntu akhirnya pasukan Kumpeni dengan dibantu oleh pasukan Kasultanan Yogyakarta, pasukan Mangkunegaran, dan Pasisiran melakukan mengepung Keraton Surakarta dari segala penjuru. Di sebelah timur, pasukan pasisiran telah melakukan persiapan di desa Grompol, sedangkan pasukan Kumpeni telah siap di sebelah barat yaitu di Boyolali. Disebelah utara pasukan Mangkunegaran dan Kumpeni juga mempersiapkan diri di benteng masing-masing. Adapun pasukan Kasultanan Yogyakarta telah ditempatkan di Gondang untuk mengepung arah selatan.

Sunan Paku Buana IV melihat kuatnya pengepungan terhadap Keratonnya merasa gentar juga. Akhirnya atas bujukan dan usaha Kyai Yasadipura I, Sunan bersedia menyerahkan abdi dalem kepercayaannya yang dianggap sebagai biang keladi kekacauan. Dengan ditangkap dan dibuangnya kelima abdi dalem kepercayaan Sunan, maka pengepungan terhadap Keraton Surakarta dihentikan.

Apabila dilihat kembali latar belakang terjadinya peristiwa pakepung, maka tidak saja berkaitan dengan persoalan politik melainkan semangat keagamaan. Sumber Kolonial menyebut Wiradigda, Bahman, Kandhuruhan, Panengah dan Nur Saleh sebagai panepen yang berarti alim ulama. Sedangkan dari tradisional Jawa, seperti babad pakepung dan serat wicara keras menyebutnya dengan istilah abdi dalem santri. Di samping itu salah satu tuntutan Sunan Paku Buwana IV kepada Kumpeni juga bermuatan kepentingan agama karena menuntut semua penghulu yang ada di Yogyakarta, Semarang, dan daerah Pasisiran untuk tunduk dan mengikuti kebijakan penghulu Surakarta. Berdasarkan kenyataan ini sudah menunjukkan bahwa kebijakan politik Sunan pada waktu itu memang banyak dipengaruhi oleh gerakan keagamaan.

Sunan Paku Buwana IV ketika masih berstatus putra mahkota, sikap keagamaannya banyak terpengaruh oleh Wiryakusuma, seorang guru agama yang mempunyai kecenderungan anti Kumpeni. Wiryakusuma adalah putra R.M. Kreta yang dilahirkan dan dibesarkan di Cape Town, pada masa itu menjadi tempat pembuangan bagi tokoh-tokoh perjuangan yang menentang dominasi Kumpeni. Salah satu tokoh perjuangan yang dibuang ke Cape Town adalah Syaikh Yusuf al-Maqassari, seorang ulama besar sekaligus sebagai guru Tarekat Naqsabandiyah. Wiryakusumah yang hidup di komunitas orang-orang buangan dari nusantara mengenal dengan nama dan ajaran tokoh ini, meskipun Syaikh Yusuf sendiri telah meninggal dunia dan dimakamkan disana. Sikap keagamaan Wiryakusumah sendiri yang mengamalkan dzikir dan wirid, telah memperkuat adanya indikasi adanya pengaruh ajaran Tarekat Naqsyabandiyah dalam dirinya.

[Sumber : http://gusuwik.net78.net]

Wednesday, January 5, 2011

Tentara Persia yang Hilang ditemukan di Gurun

Sisa-sisa tentara Persia yang perkasa dikatakan telah tenggelam dalam pasir di gurun barat Mesir 2.500 tahun yang lalu, akhirnya telah ditemukan dan mungkin memecahkan salah satu misteri terbesar arkeologi yang beredar, menurut para peneliti Italia.

Senjata perunggu, gelang perak, anting dan ratusan tulang manusia ditemukan di padang gurun terpencil yang luas dari gurun Sahara telah mengangkat harapan akhirnya menemukan tentara yang hilang dari Raja Persia Cambyses II. Para 50.000 prajurit dikatakan dikubur oleh badai pasir dahsyat di 525 SM.

"Kami telah menemukan bukti arkeologi pertama dari sebuah cerita yang dilaporkan oleh Herodotus sejarawan Yunani," kata Dario Del Bufalo, seorang anggota ekspedisi dari Universitas Lecce.

Menurut Herodotus (484-425 SM), Cambyses, putra Cyrus Agung, mengirimkan 50.000 tentara dari Thebes untuk menyerang Oasis Siwa dan menghancurkan oracle di Kuil Amun setelah imam di sana menolak untuk melegitimasi klaimnya ke Mesir .

Setelah berjalan selama tujuh hari di padang gurun, tentara menemukan sebuah "oasis," yang sejarawan percaya adalah El-Kharga. Setelah mereka pergi, mereka tidak pernah terlihat lagi.

"Angin berasal dari selatan, kuat dan mematikan, membawa dengan itu kolom besar berputar pasir, yang seluruhnya menutupi tentara dan menyebabkan mereka sepenuhnya menghilang," tulis Herodotus.

Seabad abad setelah Herodotus menulis bukunya, Alexander Agung sendiri berziarah ke oracle Amun, dan 332 SM ia mendapat konfirmasi oracle bahwa ia adalah putra ilahi Zeus, dewa Yunani yang disamakan dengan Amun.

Kisah tentara Cambyses yang hilang menjadi terlupakan. Karena tidak ada jejak prajurit malang yang pernah ditemukan, ulama mulai mengabaikan kisah sebagai kisah fantastis.

Kini, dua arkeolog Italia mengklaim telah menemukan bukti mencolok bahwa tentara Persia itu memang ditelan dalam badai pasir. kembar bersaudara Angelo dan Alfredo Castiglioni sudah terkenal untuk penemuan mereka 20 tahun yang lalu dari "kota emas" Mesir kuno bernama Berenike Panchrysos.

Disampaikan baru-baru ini di festival film arkeologi Rovereto, penemuan itu adalah hasil dari 13 tahun penelitian dan lima ekspedisi ke padang pasir.

"Semuanya dimulai pada tahun 1996, selama ekspedisi bertujuan mengkaji kehadiran meteorit besi dekat Bahrain, salah satu oasis kecil tidak jauh dari Siwa," kata Alfredo Castiglioni, direktur Timur Desert Research Center (CeRDO) di Varese, Discovery News.

Saat bekerja di daerah tersebut, para peneliti menemukan sesuatu yang menarik. Kemudian kembar bersaudara  itu melihat sesuatu yang sangat menarik - apa yang bisa menjadi tempat penampungan alami.

Itu adalah batu sekitar 35 meter (114,8 kaki) panjang 1,8 meter (5,9 kaki) tingginya dan 3 meter (9,8 kaki) dalam. formasi alam tersebut terjadi di padang gurun, tetapi batu besar ini adalah satu-satunya di area yang luas.

"Ukurannya dan bentuk membuatnya menjadi perlindungan sempurna dalam badai pasir," kata Castiglioni.

Di sana, detektor logam dari ahli geologi Mesir Aly Barakat dari Universitas Kairo menemukan beberapa peninggalan peperangan kuno yang bersejarah seperti : belati perunggu dan beberapa panah.

"Kami sedang membicarakan tentang benda berukuran kecil, namun mereka sangat penting karena mereka adalah Achaemenid objek pertama yang telah muncul dari gurun pasir di lokasi cukup dekat dengan Siwa," kata Castiglioni.

Sekitar seperempat mil dari tempat penampungan alami, tim Castiglioni menemukan gelang perak, anting dan beberapa bidang yang merupakan bagian kemungkinan kalung.

"Analisis anting-anting itu, berdasarkan foto-foto, menunjukkan bahwa tentu tanggal dengan periode Achaemenid berupa anting-anting dan bola yang tampaknya terbuat dari perak.. Sungguh sangat mirip anting-anting, dari abad kelima SM, telah ditemukan dalam sebuah penggalian di Turki, "kata Andrea Cagnetti, seorang ahli terkemuka perhiasan kuno.

Pada tahun-tahun berikutnya, saudara Castiglioni mempelajari peta kuno dan sampai pada kesimpulan bahwa pasukan Cambyses 'tidak mengambil rute kafilah luas diyakini melalui Dakhla dan Farafra Oasis.

"Sejak abad ke-19, banyak arkeolog dan penjelajah telah mencari tentara yang hilang di sepanjang rute yang namun mereka tidak menemukan apa-apa. Kami membuat hipotesis bahwa suatu periode penjelajahan yang yang berbeda berasal dari selatan. Memang kita menemukan bahwa seperti rute yang sudah ada dari Dinasti ke-18," kata Castiglioni.

Menurut Castiglioni, dari El Kargha tentara mengambil rute barat untuk menuju Gilf El Kebir, melewati Wadi Abd el Melik, lalu menuju ke arah utara menuju Siwa.

"Rute ini memiliki keuntungan dengan membuat musuh terkejut, selain itu, dan membuat tentara barisan tentara menjadi terganggu. Sebaliknya, karena oasis di rute lainnya dikuasai oleh orang Mesir, tentara harus berjuang melewati setiap oasis," kata Castiglioni.

Untuk menguji hipotesis mereka, saudara-saudara Castiglioni melakukan survei geologi di sepanjang rute alternatif. Mereka menemukan sumber air  kering dan sumur buatan yang terbuat dari ratusan pot air yang terkubur di pasir. sumber air tersebut mungkin satu-satunya yang ada di gurun.

"Termoluminescence memiliki tanggal pembuatan gerabah yang terbuat 2.500 tahun yang lalu, yang sejalan dengan waktu Cambyses '," kata Castiglioni.

Dalam ekspedisi terakhir mereka di tahun 2002, saudara Castiglioni kembali ke lokasi penemuan awal mereka. Di sana, sekitar 100 km (62 mil) selatan Siwa, peta kuno telah keliru yang menunjukan letak kuil Amun.

Para prajurit percaya bahwa mereka telah mencapai tujuan mereka, tetapi mereka menemukan khamsin - itu badai panas yang kuat dan angin tenggara tak terduga yang berhembus dari gurun Sahara Mesir.

"Beberapa prajurit menemukan tempat perlindungan di bawah bahwa tempat hunian alam, lainnya tersebar di berbagai arah. Beberapa mungkin telah mencapai danau Sitra, sehingga selamat," kata Castiglioni.

Pada akhir ekspedisi, tim memutuskan untuk menyelidiki cerita Badui tentang ribuan tulang putih yang  muncul selama beberapa dekade lalu dalam kondisi angin tertentu di daerah terdekat.

Memang, mereka menemukan kuburan massal dengan ratusan tulang dan tengkorak.

"Kami belajar bahwa jenazah telah terpapar oleh perampok kubur dan bahwa pedang indah yang ditemukan di antara tulang dijual kepada turis Amerika," kata Castiglioni.

Di antara tulang, sejumlah kepala panah Persia dan sedikit kuda, identik dengan salah satu yang muncul dalam penggambaran sebuah kuda Persia kuno.

"Di padang gurun padang pasir terpencil, kami telah menemukan lokasi yang paling tepat di mana tragedi tersebut terjadi," kata Del Bufalo.

Tim tersebut telah mengkomunikasikan temuan mereka ke Survei Geologi Mesir dan memberikan temuan mereka kepada otoritas Mesir.

"Kami tidak pernah mendengar lagi dan saya yakin bahwa tentara yang hilang akan dikuburkan di suatu tempat di sekitar daerah yang kita disurvei, mungkin di bawah lima meter (16,4 kaki) pasir.."

Mosalam Shaltout, profesor fisika matahari di National Research Institute Astronomi dan Geofisika, Helwan, Kairo, percaya sangat mungkin bahwa tentara barat mengambil rute alternatif untuk mencapai Siwa.

"Saya pikir itu tergantung pada perencanaan buruk mereka untuk air yang cukup dan makan selama rute padang pasir panjang dan hampir semua oleh terjadinya suatu angin Kamassen dan letusan berpasir selama lebih dari satu hari," kata Shaltout Discovery News.

Piero Pruneti, editor Archeologia Viva, majalah arkeologi yang paling penting Italia, juga terkesan dengan kerja tim.

"Dilihat dari dokumenter mereka, Castiglioni itu telah membuat penemuan yang sangat menjanjikan," kata Prunetic Discovery News. "Memang, ekspedisi mereka semua didasarkan pada studi yang cermat serta sebuah eksplorasi mendalam tentang daerah tersebut tentu dibutuhkan!"

[Sumber : Discoverynews.com]

Sunday, January 2, 2011

Kisah pilot Amerika yang ditembak di langit Jawa

Riwayat serdadu Amerika Serikat bernama Cornelius Reagan ini sungguh mengharukan. Pesawat yang dipilotinya pernah ditembak di langit Jawa pada 1942, semasa Pedang Dunia II.

Sebelum dibekuk serdadu Jepang, Reagen bertahan hidup di hutan Jawa dengan makan buah-buahan dan daging mentah binatang.

Ketika tertangkap Jepang, ia dibui selama lebih dari tiga tahun. Lazimnya kaum interniran zaman itu, ia juga disiksa luar biasa oleh Jepang. Berat badannya sampai turun menjadi tinggal 92 pounds atau 41,7 Kg.

Pekan ini, sebuah lembaga veteran perang di Miami, AS, menghargai pengorbanannya dengan Medali Tawanan Perang, setelah 65 tahun lepas dari penjara Jepang di Jawa dan usianya sudah 95 tahun.

"Saya waktu itu yakin saya akan dapat bertahan, dan pulang," ujar Reagen dalam seremoni pemberian medali itu.

Seraya tertawa lembut, Reagen mengisahkan, saat itu dia dianggap sudah terbunuh karena memang hilang dalam tempo lama. Militer AS pun menganggapnya sudah mati, dan mengabarkan demikian juga kepada ibunya.

Anak tunggal yang lahir di Lexington, Kentucky, itu bergabung sebagai kadet Angkatan Udara AS tahun 1940, setelah lulus Universitas Kenctucky.

Ia masih ingat, pesawatnya ditembak di langit Jawa pada 1 Maret 1942, kemudian mendarat di sawah kawasan pegunungan. Agar bertahan hidup, ia makan buah-buahan dan daging mentah karena dia tak punya korek api. Reagen pun menyelamatkan diri dengan perahu curian.

"Saya berpikir, jika saya menemukan lautan, saya dapat mencuri perahu dan pergi ke Australia," kenangnya.

Tapi apes, penduduk Jawa menemukannya dan menyerahkan kepada Jepang. Padahal, untuk mengelabuhi penduduk, sebetulnya dia sudah sempat berdusta dengan menerangkan bahwa dirinya adalah koresponden media dari Irlandia, negara yang saat itu netral.

Di penjara Jepang, dia disuruh membaca propaganda soal sistem alamat penduduk. Ketika dia menolak, dihajarlah dia atas tuduhan sabotase dan dikirim ke peradilan militer. Akhirnya, dia dinyatakan bersalah dan dihukum seumur hidup untuk menjadi pekerja kasar atau Romusha.

Reagen yang sempat belajar bahasa Jepang dan Belanda selama ditawan, merasa beruntung karena banyak dari sekitar 55 tawanan saat itu divonis hukuman mati.

Setelah divonis, dia dipindah ke sebuah penjara di pantai utara Jawa. Dia disiksa, semisal ditusuk potongan bambu di bawah kuku jarinya serta dipaksa minum air sampai muntah.

Reagen dibebaskan dan diselamatkan oleh tentara Inggris pada September 1945, sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI. Ia tetap berdinas di militer sampai pensiun tahun 1961 dan hidup bersama keluarganya di Miami.

Sampai kini, ia mengaku masih sering dihantui kenangan buruk saat jadi tawanan perang itu.

"Ini kisah luar biasa, Pak," ujar Japhet Revira, direktur lembaga peduli veteran perang itu. "Dan mungkin jadi hebat untuk diangkat dalam film."

[Sumber : tribunnews.com]

Thursday, October 7, 2010

Sejarah Legionaire Mangkunegara

Gedung Kavallerie-Artillerie di Kompleks Pura Mangkunegara, Solo, menjadi salah satu bukti terorganisasinya Legiun Mangkunegara sebagai pasukan kerajaan. Gedung yang didirikan pada tahun 1874 ini sekarang dijadikan tempat tinggal oleh sejumlah warga.

Sejak didirikan tahun 1808, Legiun Mangkunegara mencatat sejarah panjang sebagai unit militer Nusantara paling modern di zamannya. Legiun Mangkunegara ikut dalam pelbagai kancah pertempuran, seperti Perang Napoleon di Asia sebagai bagian dari pasukan Perancis-Belanda melawan pasukan Inggris-Sepoy (India) tahun 1811, Perang Jawa (Perang Diponegoro, 1825-1830), Perang Aceh (1873-1904), sejumlah operasi militer di Nusantara, hingga menghadapi Jepang dalam perang Pasifik (1942) di seantero Nusantara.

Raden Mas Sarwanta Wiryasuputra dalam buku Legiun Mangkunegara yang diterbitkan Reksopustoko, Perpustakaan Istana Mangkunegaran, 1978, menjelaskan, operasi tempur pertama terjadi pada masa kepemimpinan Herman Willem Daendels, sang perwira kepercayaan Napoleon Bonaparte, pada tahun 1808.

Ketika itu, kekuatan Legiun Mangkunegara di bawah Pangeran Ario Praboe Prang Wedana sebagai kolonel dalam dinas Sri Baginda Lodewijk Napoleon— kerabat Napoleon Bonaparte— memiliki total 1.150 prajurit yang dibagi dalam 800 prajurit infanteri (Fusilier), 100 prajurit penyerbu (Jagers), 200 prajurit kavaleri (berkuda), dan 50 prajurit rijdende artileri (meriam).

Struktur awal staf dan anggota Legiun Mangkunegara memiliki 2 orang perwira senior berpangkat mayor, 4 letnan ajudan, 9 kapitein, 8 letnan tua, 8 letnan muda, bintara sebanyak 32 sersan, tamtama sebanyak 62 kopral, flankier 900 orang, dragonder (dragoon) 200 orang, dan steffel 50 orang. Mereka menggunakan seragam topi syako dan jas hitam pendek bagi bintara dan prajurit. Perwira memakai topi syako, jas hitam, dan celana putih.

Saat Inggris mengalahkan Perancis, Legiun Mangkunegara dibubarkan oleh pemerintahan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Namun, karena desakan kebutuhan, Legiun Mangkunegara segera dimobilisasi kembali.

Sewaktu perdamaian ter- capai di Eropa, Hindia Belanda pun dikembalikan Inggris kepada Belanda pada tahun 1816. Ketika itu, kekuatan Legiun Mangkunegara sebanyak 739 serdadu. Kemudian, susunan organik ditetapkan sebanyak 800 orang. Pada Perang Jawa (1825- 1830), kekuatan Legiun Mangkunegara ditingkatkan menjadi 1.500 orang. Seusai perang, kekuatan Legiun Mangkunegara dikurangi menjadi 1.000 personel.

Modernisasi Legionnaire Jawa
Reorganisasi dan modernisasi dilakukan menyeluruh pada era Mangkunegara IV (1853-1881). Mangkunegara yang berhasil membangun perekonomian dengan perkebunan tebu, industri gula, dan agrobisnis lainnya mengembangkan Legiun Mangkunegara sedemikian rupa. Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu didirikan oleh Mangkunegara IV dan menjadi sumber kemakmuran kawula Mangkunegara.

Demi membangun militer yang profesional, dibuat buku panduan Soldat Sekul (Sekolah Prajurit) pada tahun 1855 oleh Fredericus Willhelmus Winter, seorang guru bantu di Surakarta. Instruksi bagi Legionnaire menggunakan bahasa Belanda yang ”dijawakan”. Sebagai contoh, purwares mares (voorwarts mars) yang berarti maju jalan, gewonepas (gewone pas), yakni jalan biasa, dan geswindepas (gezwinde pas) yang berarti jalan dipercepat.

Pelatih profesional pun didatangkan pada tahun 1875, yakni seorang kapten infanteri, 4 bintara infanteri Eropa, ditambah masing-masing seorang letnan dan bintara kavaleri Eropa.

Karena kesulitan keuangan, pada tahun 1888 satuan artileri yang berkekuatan 50 prajurit dan setengah baterai lapangan (field battery) yang memiliki empat pucuk meriam kaliber 80 milimeter ditiadakan.

Semasa Perang Dunia I (1914-1918) berkecamuk di Eropa, Afrika, dan Asia, kekuatan Legiun Mangkunegara dikembangkan hingga 2.000 personel. Kala itu timbul polemik tentang Indie Werbaar (Pertahanan Hindia Belanda) di Nusantara tentang upaya melibatkan masyarakat setempat dalam menjaga Hindia Belanda dari serangan militer asing. Setelah perang berakhir, jumlah pasukan kembali diciutkan menjadi 925 prajurit pada tahun 1922.

Modernisasi terakhir dialami tahun 1935 menjelang Perang Dunia II pecah di Pasifik. Mangkunegara VII, seperti para pendahulunya, selalu mencermati perkembangan dunia dan mengembangkan Legiun Mangkunegara sedemikian rupa. Legiun Mangkunegara dibagi atas staf dan satu setengah batalyon infanteri.

Staf legiun memiliki ajudan atau intendan, dokter militer, dan korps musik. Sementara batalyon dibagi atas enam kompi serta unit mitraliur (senapan mesin). Legiun Mangkunegara terlibat dalam pertempuran melawan Jepang di Pulau Tarakan, Kalimantan Timur, menghadang Jepang di Surakarta dalam pertempuran di sekitar Jalan Slamet Riyadi, serta pertempuran terakhir sebelum Pulau Jawa jatuh ke tangan militer fasis Jepang di sekitar Pulau Madura, Jawa Timur, Stelling Ciater-Lembang di Jawa Barat, dan mempertahankan Pelabuhan Cilacap di Jawa Tengah.

Setelah Jepang menguasai Nusantara, Legiun Mangkunegara pun dibubarkan. Menurut sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sudarmono, setelah Indonesia merdeka tahun 1945, banyak di antara mantan Legionnaire yang menyumbangkan keahlian mereka ke dalam militer Republik Indonesia.

Sejarah Pangeran Sambernyawa

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara I alias Pangeran Sambernyowo alias Raden Mas Said (Kraton Kartasura, 7 April 1725 - Surakarta, 28 Desember 1795) adalah pendiri Praja Mangkunagaran, sebuah keadipatian tinggi di wilayah Jawa Tengah bagian timur, dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ayahnya bernama Pangeran Arya Mangkunagara Kartasura dan ibunya bernama R.A. Wulan.

Pasukan Wanita Mangkunegoro
Mangkunegoro mendirikan istana di pinggir Kali Pepe pada tanggal 4 Jimakir 1683 (Jawa), atau 1756 Masehi. Tempat itulah yang hingga sekarang dikenal sebagai istana Mangkunagaran. Untuk menetapkan wilayah kekuasaan Mangkunegoro, tercapailah kemudian perjanjian di Salatiga, 17 Maret 1757. Dalam perjanjian yang melibatkan Sunan Paku Buwono III, Sultan Hamengku Buwono I, dan Kompeni Belanda ini, disepakati bahwa Mangkunegoro diangkat sebagai adipati miji alias mandiri. Ia bergelar Kanjeng Pangeran Adipati Arya Hamangkunegoro. Kedudukannya sejajar dengan Sunan dan Sultan. Ia memerintah wilayah Kadaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Ia bertahta selama 40 tahun, dan wafat pada 28 Desember 1795. Pada 1983, pemerintah mengangkat Mangkunegoro I sebagai pahlawan nasional, mendapat penghargaan Bintang Mahaputra.

Selama bertahta, ia membangun kekuasaan militer terbesar di antara tiga kerajaan Jawa. jumlah pasukannya mencapai 4.279 tentara reguler. Sebanyak 144 di antara prajuritnya adalah wanita, terdiri dari satu peleton prajurit bersenjata karabijn (senapan), satu peleton bersenjata penuh, dan satu peleton kavaleri (pasukan berkuda). Mangkunegoro tercatat sebagai raja Jawa yang pertama melibatkan wanita di dalam angkatan perang. Prajurit wanita itu bahkan sudah diikutkan dalam pertempuran, ketika ia memberontak melawan Sunan, Sultan dan Kompeni. Selama 16 tahun berperang, Mangkunegoro mengajari wanita desa mengangkat senjata dan menunggang kuda di medan perang. Ia menugaskan sekretaris wanita mencatat kejadian di peperangan.

Di sebuah gubuk di perkampungan kecil, seorang Pangeran singgah untuk beristirahat. Kedekatannya dengan rakyat, membuat ia tak segan makan jenang katul (bubur bekatul) yang dihidangkan oleh Mbok Rondo penghuni gubuk itu. Sementara, ratusan tentara kompeni mulai menyebar dan mengepung setiap sudut kampung tempat Pangeran itu singgah. Ketika jenang katul masih panas, Sang Pangeran menyendoknya tepat di bagian tengah lalu memakannya, tentu saja terasa sangat panas..! “Duh pangeran kalau makan jenang katul itu jangan langsung di tengah, tapi dari pinggir dulu terus muter, jadi pas sampai tengah kan sudah dingin,” kata Mbok Rondo.

Pangeran tertegun, ia terus merenungi perkataan Mbok Rondo. Sementara, tentara kompeni semakin banyak yang mengepung kampung itu. Sang Pangeran pun bergegas meninggalkan gubuk, dengan pedang saktinya ia bergerak keluar dari kampung itu, untuk kemudian membabat habis tentara kompeni dengan arah melingkar seperti yang dianjurkan oleh Mbok Rondo sewaktu makan jenang katul.

Ternyata Pangeran bukan cuma sakti, tetapi juga cerdas. Ia tanggap pada setiap perkataan yang bermakna tanpa melihat siapa yang mengatakan. Walaupun, perkataan itu dari seorang rakyat miskin seperti Mbok Rondo. Tapi Pangeran mampu menjadikannya sebuah strategi perang yang andal. Kesaktian dan kepiawaian dalam berperang membuat lawan semakin gentar, ia selalu menjatuhkan banyak korban sehingga ia dijuluki Pangeran Sambernyawa.

Cerita tentang Pangeran Sambernyawa masih melekat di hati masyarakat Solo terutama di daerah pedesaan. Hingga kini, tempat-tempat yang dulu pernah di singgahi oleh Pangeran Sambernyawa masih kerap dikunjungi oleh peziarah terutama pada bulan Suro.

Berikut sejarah Pangeran Sambernyawa menurut penuturan Mas Ngabehi Cipto Astono, penjaga dan perawat Astana Mangadeg.

Masa perjuangan Pangeran Sambernyawa terus berlangsung selama 16 tahun. “Beliau diasingkan oleh keluarga keraton yang waktu itu telah dikuasai oleh Hindia Belanda,” tutur Mas Ngabehi. “Pangeran Sambernyawa yang mempunyai nama Raden Mas Said, keluar dari keraton dan berbaur dengan rakyat kecil untuk memimpin pasukan melawan Hindia Belanda,” lanjutnya.

Pangeran Sambernyawa dan pasukannya bergerilya sampai ke daerah Tawangmangu, Karanganyar. Kemudian bertemu dengan dua orang pertapa yang bernama Kyai Adi Roso dan Kyai Adi Sono di daerah Sumokaton. Oleh kedua pertapa itu, Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said disuruh pergi berdiam diri di Gunung Mangadeg untuk bertapa dan memohon petunjuk dari Sang Pencipta, yaitu Alloh SWT.

“Dalam pertapaannya di Gunung Mangadeg, Pangeran Sambernyawa mendapat barokah pusaka berupa samurai dan stambul. Setelah selesai dari pertapaannya, beliau bertemu dengan Ludono Warso yang kemudian diangkat menjadi patih saat Pangeran Sanbernyawa telah menjadi Raja Mangkunegaran I,” kata Mas Ngabei.

Pangeran Sambernyawa terus melanjutkan perjuangan melawan Hindia Belanda ke wilayah Wonogiri. “Di sana beliau diangkat menjadi raja oleh para pengikutnya di Wonogiri. Namun, pengangkatan dan pembentukan kerajaan tersebut menemui banyak kendala, hingga beliau memutuskan untuk tidak menjadi raja dan membatalkan pembentukan kerajaan.” Pangeran Sambernyawa memilih melanjutkan perjuangannya melawan V.O.C Hindia Belanda sampai akhirnya berhasil memukul mundur dari bumi Mataram. Setelah V.O.C Hindia Belanda mundur, pucuk pimpinan kerajaan Mataram kosong, maka diangkatlah raja baru bergelar Pakubuwono III bertempat di Kartosuro. Yang kemudian memanggil Pangeran Sambernyawa dan Pangeran Mangkubumi ke keraton untuk mengajak bersama-sama memperbaiki tatanan pemerintahan kerajaan, Mengingat pangeran Sambernyawa dan Pangeran Mangkubumi adalah keponakannya.

Namun Pangeran Sambernyawa dan Pangeran Mangkubumi menolak permintaan tersebut, karena dilatarbelakangi rasa iri sebab Pakubuwono III tidak ikut dalam berjuang mengusir penjajah malah diangkat menjadi raja. Sedangkan Pangeran Sambernyawa yang berjuang melawan penjajah Hindia Belanda selama enam belas tahun tidak diangkat menjadi raja.

Pangeran Sambernyawa menolak untuk masuk kekeraton dan meminta kepada Pakubuwono III wilayah tanah jajahannya sendiri. Permintaan Pangeran Sambernyawa kemudian dikabulkan dan disetujui oleh Pakubuwono III, sehingga kerajaan Mataram dipecah menjadi tiga, yaitu kerajaan Surakarta dan Kerajaan Ngayogyakarta yang diperingati dengan perjanjian Giyanti, serta berdirinya keraton Mangkunegara dengan perjanjian Salatiga. Keraton Mangkunegaran dipegang oleh Pangeran Sambernyawa yang dinobatkan menjadi Raja Mangkunegara I pada tahun 1759 M, hingga beliau wafat pada tahun 1795 M.

Makam Pangeran Sambernyawa berada di Astana Mangadeg karena untuk mengingat kembali masa perjuangannya dalam mengusir penjajah Hindia Belanda selama enam belas tahun dan mendapatkan barokah dengan bertapa di Gunung Mangadeg.

“Di Astana Mangadeg kini telah dibangun monumen yang diberi nama Monumen Tri Darma sebagai tanda tempat dulunya Pangeran Sambernyawa bertapa untuk mencari petunjuk pada Sang Pencipta dalam pengabdiannya pada Bumi Pertiwi,” tuturnya.

“Selain itu, untuk mengingat petunjuk kedua pertapa yaitu kyai Adi Sono dan kyai Adi Roso, di bangunlah gapura, bertuliskan nama kedua kyai tersebut.” Lanjutnya.

Bangunan Astana Mangadeg saat ini terdiri dari tiga komplek bangunan, yaitu komplek makam Mangkunegaran I berserta keturunannya, Komlek makam keturunan Mangkunegaran II dan III, dan komplek makam dari beberapa keturunan yang lain. Pembangunannya diprakarsai oleh yayasan Mangadeg pada tahun 1970.

Monopoli belanda di seluruh jawa misalnya di Batavia telah menguasai segalanya termasuk golongan etnis china yang berdagang di Indonesia pada masa itu juga telah tertekan dan tersingkir, maka pada 30 Juni 1742 pasukan Cina menyerang Mataram yang ada di Kartasura pada masa pemerintahan Paku Buwana II, penyerangan ini karena Mataram dianggap negara boneka Belanda. Penyerangan ini dipimpin oleh Mas Garendi / Sunan Kuning. Geger Pecinan ini telah membuat para bangsawan keraton melarikan diri misalnya Paku Buwana II(raja mataram ketika masih di kartasura/solo) lari ke Ponorogo Jawa Timur, Pangeran Puger membangun pertahanan di Sukowati, Sragen.

Sedangkan RM Said / Mangkunegara waktu itu berusia 19 tahun membangun pertahanan di Randu lawang sebelah utara Surakarta dan karena satu misi maka bergabung dengan Sunan Kuning. Pada masa itu Said bergelar Pangeran Perang Wedhana Pamot Besur yang diangkat sebagai panglima perang dan menikah dengan Raden Ayu Kusuma Patahhati, sedangkan Mangkubumi lari ke Semarang untuk menemui belanda dan meminta dirinya diangkat sebagai Raja. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh belanda, dengan memberikan bantuan pada PB II mengusir pasukan cina dan akhirnya berhasil, karena kerusakan kraton di Kartosura makan kraton dipindah ke Surakarta/Solo. Tetapi berkat bantuan belanda tersebut bagian wilayah timur mulai dari rembang,, Surabaya, madura dan pasuruan di serahkan pada belanda dan pengangkatan raja harus seijin pemerintah belanda.

Yang masih tetap melawan belanda adalah Pangeran Puger dan Mangkunegara, sehingga PB II meminta Mangkubumi untuk meredam para pejuang yang dianggap sebagai pemberontak itu. Keberhasilan Mangkubumi tidak mendapat sambutan baik dari belanda dan PB II malahan tanah lungguhnya dikurangi. Sehingga Mangkubumi lari dan bergabung dengan Mangkunegara untuk bergerilya melawan belanda. RM Said/Mangkunegara dinikahkan untuk yang kedua kali dengan Putri Mangkubumi yang bernama Raden Ayu Inten dan bergelar Pangeran Adipati Mangkunegara Senapati Panoto Baris Lelana Adikareng Noto.

Nama Mangkunegara ini diambil dari nama ayahnya Arya Mangkunegara yang ditangkap belanda dan dibuang ke Srilangka, karena menentang kekuasaan Amangkurat IV (Paku Buwana I) karena latar belakang inilah RM Said sangat berkobar melawan belanda. Kehidupan Mangkunegara dihutan dan berpindah-pindah. Hingga pada saatnya PB II meninggal dunia dan kesempatan ini digunakan untuk mengangkat Mangkubumi menjadi raja di Mataram Ngayogyakarta dengan patihnya mangkunegara (1749) tetapi pemerintahan di Yogyakarta tidak diakui oleh kumpeni / belanda.

Sedangkan oleh belanda putra pangeran yang bernama Pangeran Adipati Anom diangkat sebagai raja dengan gelar PB III di Matram Surakarta. Selama sembilan tahun bersama Mangkubumi akhirnya Mangkunegara berselisih paham juga dan berpisah akhirnya berjuang sendiri dipedalaman yogyakarta dan sekitarnya. Perseteruan dua keturunan mataram yang sama-sama mengaku raja Mataram antara Mangkubumi dan Adipati Anom akhirnya dibawa oleh belanda dalam suatu Traktat perjanjian yang bernama Perjanjian Giyanti (1755) dan hasilnya adalah membagi 2 wilayah mataram yaitu bagian timur dengan nama Mataram Surakarta Hadiningrat dengan raja Sri Susuhunan Paku Buwana III dan bagian barat bernama Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat dengan raja Mangkubumi dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono Senopati Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panotogomo. Sedangkan Mangkunegara kini harus berperang melawan 3 kekuatan yaitu dari Yogyakarta, Surakarta dan pasukan Belanda.

Menurut riwayat perang mangkunegara yaitu: selama setahun (1741-1742) bergabung dengan Laskar cina , kemudian selama sembilan tahun (1743-1752) bergabung dengan Mangkubumi. Dalam masa itu Mangkunegara telah melakukan pertempuran sebanyak 250 kali dan berkali-kali mengkunegara lolos dalam penyergapan, keberhasilan membina pasukan yang militan sangat ditakuti sehingga mendapat julukan “Pangeran Samber Nyawa “, Dalam buku harian Mangkunegara ada dua pertempuran besar yaitu pertempuran di desa Sitakepyak selatan Rembang . pasukan musuh sebanyak 600 tewas yang dilukiskan seperti semut yang berjalan tiada henti sedangkan prajuritnya yang tewas hanya 3 orang 29 luka-luka.(1756) . dalam perang ini tercatat oleh belanda telah melakukan serangan gabungan yaitu 200 serdadu belanda, 400 pasukan Kesultanan Yogyakarta dan 400 Pasukan Surakarta. Bahkan kapten Ban Der Poll tewas terpenggal kepalanya dengan tangan kirinya di sambar oleh Pangeran Sambernyawa dan di berikan kepada selir Mbok Ajeng Wiyah selirnya sebagai tanda cinta Mangkunegara.

Perang besar kedua yaitu di hutan dekat Blora pada tahun 1757. keganasan pasukan belanda yang menyerang dan menjarah harta orang desa membuat marah Sambernyawa yang akhirnya menyerang balik Kraton Yogyakarta dan mendudukinya hingga malam, bahkan patihnya yang bernama Joyosudirgo dipenggal kepalanya. Kejadian ini membuat marah pamanya atau mertuanya Mangkubumi dan menghadiahkan siapa saja yang berhasil membunuh Sambernyawa akan di bayar 500 real.

Kehebatan Pangeran Sambernyawa tidak terkalahkan oleh siapapun hingga akhirnya belanda meminta bantuan kepada Paku Buwono III agar bisanya mengajak berunding secara kekeluargaan. Dan akhirnya atas permintaan secara kekeluargaan pula Mangkunegara berhenti berperang dihutan dan diakui kehebatannya dan akhirnya mendirikan istana di pinggiran Kali Pepe pada 1756 dan tempat inilah yang sekarang terkenal dengan nama istana Mangkunegara.

Kemudian dibuat perjanjian Salatiga 17 maret 1757 dengan isi mangkunegara diangkat sebagai Adipati Miji (mandiri ) yang pangkatnya sejajar dengan Sultan dan Sunan dan daerah kekuasaanya meliputi: Kedaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyun, Gunung Kidul, Pajang utara dan Kedu. Mangkunegara wafat pada 28 Desember 1795. Oleh pemerintah Indonesia Mangkunegara diangkat sebagai pahlawan Nasional dan disana didirikan Pendopo terbesar di Indonesia seluas 3500 meter persegi.