Showing posts with label The Curious Case of Soekarno. Show all posts
Showing posts with label The Curious Case of Soekarno. Show all posts

Sunday, June 19, 2011

Mengawal Ambalat Dengan Pola Trikora

Trikora adalah puncak kemarahan Presiden Soekarno setelah lebih dari sepuluh tahun Belanda tak mau juga hengkang dari bumi Papua. Berbagai cara diplomasi dilakukan selama kurun sepuluh tahun itu sejak pengakuan kedaulatan RI oleh Kerajaan Belanda akhir Desember 1949. Namun bukannya segera “mengemasi barang-barang”nya di Papua sebagaimana amanat Konferensi Meja Bundar, Belanda malah memperkuat militernya di bumi cenderawasih dan bersiap memproklamirkan negara boneka Papua.

Bukan Soekarno namanya kalau tidak cerdas, bervisi, enerjik, menggelegar dan mampu berpikir out of the book. Jalan diplomasi tidak menampakkan perkembangan, langkah keras dia lakukan melalui cara menasionalisasikan seluruh perusahaan Belanda yang ada di Indonesia dan memulangkan paksa semua warga negara Belanda. Itu terjadi tahun 1959. Setahun kemudian tepat tanggal 17 Agustus 1960 RI memutuskan hubungan diplomatik dengan bekas penjajahnya itu.

Diplomasi untuk mengembalikan Irian Barat harus dipertegas dengan gelar kekuatan militer besar-besaran. Ini dimulai tahun 1958 dengan kontrak pembelian alutsista dari blok Timur (Polandia dan Cekoslovakia) sebesar US $ 80 juta. Tak lama kemudian 30 Mig 15 UTI tiba di tanah air. Pada tahun yang sama Rusia (waktu itu masih Uni Sovyet) melalui sekutunya Polandia menyetujui pengadaan dua kapal selam kelas Whiskey. Setahun kemudian tepatnya September 1959 dua kapal selam itu tiba di Surabaya dan diberi nama RI Cakra dan RI Nanggala.

Desember 1960 delegasi Jendral Nasution bertandang ke Rusia dengan membawa daftar belanja alutsista seabreg. Setahun kemudian Rusia menyetujui belanja alutsista untuk RI sebesar US $ 500 juta dollar, ini ekivalen dengan nilai US$ 2,5 milyar untuk ukuran sekarang. Daftar belanja yang disetujui itu adalah 10 kapal selam, 5 Destroyer, 8 Fregat, 14 Penyapu Ranjau, 22 Kapal Cepat Torpedo. Kemudian 40 Mig-17 Fresco, 30 Mig-19, 24 Mig-21, 26 Pesawat pembom jarak jauh Tu-16, 18 pembom taktis IL-28 Beagle, 8 Antonov, 12 Mi-4, 8 Mi-6, 6 radar, ratusan tank / panser amphibi.

Pada saat yang sama TNI sudah memiliki 10 Hercules, 8 B-25 Mitchell, 6 B-26 Invader, 12 P51 D Mustang, 32 C-47 Dakota, 20 Heli Bell-204, 8 Heli Albatross, 4 Destroyer dan 8 Fregat dan 30 an KRI jenis lain.

Trikora dikumandangkan Presiden Soekarno di Yogya tanggal 19 Desember 1961. Pemilihan tanggal ini untuk mengingatkan serangan frontal Belanda ke Yogya tanggal 19 desember 1948 namun tak mampu mengalahkan TNI. Nah setelah Trikora dikumandangkan dimulailah kampanye pengembalian Irian Barat, dibentuk Komando Mandala dengan komandan Mayjen Soeharto awal Pebruari 1962 atau 2 minggu setelah pertempuran Arafuru. Pusat komando pengendalian pertempuran ada di Makassar. Arafuru adalah spirit dan adrenalin komando Mandala yang kemudian melakukan puluhan inflitrasi dan penerjunan tak terduga di Irian sebelum operasi puncak Jayawijaya dilakukan.

Kekuatan daya pukul yang dimiliki TNI pada pertengahan tahun 1962 menjelang operasi gabungan amphibi Jayawijaya tanggal 12 Agustus 1962 untuk menyerang Biak sangat mengkhawatirkan AS. Melalui pesawat mata-mata dan kapal selam armada ke 7 AS diperoleh informasi yang sangat mencekam, ada manuver dan pemusatan kekuatan TNI AL di Teluk Peleng dan Halmahera. Lebih dari 90 KRI berkumpul di Teluk Peleng dan 12 kapal Selam di Teluk Kupa-Kupa. Sementara berbagai pesawat tempur dan pembom ditempatkan di Morotai, Amahai, Letfuan, Langgur, Manado, Kendari, Makassar.

Laporan intelijen ini sampai ke telinga Presiden Kennedy dan beliau segera mengambil langkah darurat, mempertemukan kedua delegasi Indonesia dan Belanda untuk maju ke meja perundingan. Inilah salah satu kepiawaian Soekarno. Presiden RI pertama ini sengaja “membiarkan” kedatangan alutsista TNI AL dari Rusia datang dan melewati laut Sulawesi yang tentu saja dekat dengan pangkalan armada ke 7 AS di Teluk Subic Philipina. Kedatangan kapal penjelajah yang legendaris KRI Irian dari Rusia sengaja dipamerkan sebagai unjuk kekuatan dan bagian dari perang psikologis untuk menggentarkan armada kapal perang Belanda. Dan memang Belanda ciut, begitu KRI Irian memasuki perairan Indonesia, kapal komando Belanda Karel Doorman menghindar menuju Australia.

Intelijen AS menangkap pesan bahwa tanggal 12 Agustus 1962 TNI akan dilakukan operasi gabungan amphibi menyerang Biak dengan nama operasi Jayawijaya. Jumlah pasukan TNI yang disiapkan mencapai 30.000 pasukan pendarat terdiri dari pasukan marinir dan angkatan darat. Jika pertempuran ini terjadi, merupakan perang paling dahsyat setelah perang Korea dan diprediksi mampu memukul kekuatan Belanda yang dipimpin kapal induk Karel Doorman. Persyaratan serangan amphibi dengan kekuatan 3:1 telah dipenuhi oleh TNI. Ini tentu saja akan mempermalukan blok Sekutu yang nota bene AS sebagai kepala premannya. Padahal pada waktu bersamaan AS sedang bertarung di perang Vietnam untuk membendung paham komunis di Asia tenggara.

Kennedy berpendapat mestinya Belanda harus mengalah dan menyerahkan Papua ke Indonesia daripada membebani AS membantu Belanda melawan RI. Presiden AS itu dalam sebuah pertemuan rahasia dengan Menlu Belanda memaksa negeri kincir angin itu untuk segera meninggalkan Irian Barat secara terhormat daripada diserang dan dikalahkan secara militer oleh pasukan TNI. Inilah sebuah ironi dari persekutuan itu, walaupun mereka sekutu tidak harus seirama dengan pendapat masing-masing. Itulah sialnya si Belanda dan itu sudah jalan takdirnya. Namun kunci penyelesaian dari kampanye pengembalian Irian ini adalah unjuk kekuatan dan gelar alutsista TNI secara besar-besaran, dipamerkan di depan armada ke 7 AS.

Bagaimana dengan Ambalat, mestinya pola dan metode Trikora menjadi referensi historisnya. Memang saat ini ada 3-4 KRI yang berpatroli rutin di perairan itu termasuk membenahi infrastruktur pangkalan AL dan AU di Tarakan. Juga menempatkan satuan Marinir di Sebatik, menjadikan Tarakan sebagai zona pangkalan militer segala matra, membangun pangkalan aju di Sangatta, mempersiapkan pangkalan kapal selam di Teluk Palu, menambah satuan tempur setingkat brigade dan batalyon di Kalimantan dan Sulawesi.

Yang membedakan keduanya adalah kecepatan dan percepatan pemenuhan alutsistanya. Soekarno melalui instruksinya yang tegas dan lugas ingin agar pengadaan belanja alutsista TNI yang seabreg itu bisa dipenuhi dalam waktu 2-3 tahun, dan bisa !!. Demikian juga dalam menentukan hari H penyerbuan amphibi ke Irian, Panglima Mandala Mayjen Soeharto yang berhitung cermat dan menganalisis dari kacamata militer berpendapat bahwa kesiapan militer RI baru benar-benar ready for combat bulan Januari 1963.

Namun Soekarno menghendaki agar tanggal 17 Agustus 1962 bendera Merah Putih sudah bisa dikibarkan di Irian Barat. Maka ditetapkanlah operasi Jayawijaya tangal 12 Agustus 1962. Hasilnya akhir bulan Juli 1962 armada TNI AL berkekuatan lebih 90 KRI sudah ready di pangkalan aju Teluk Peleng. Sementara 12 kapal selam Whiskey Class sudah berpatroli di perairan Irian dan bahkan sudah mendaratkan pasukan khusus TNI AD di pantai Irian. Total kekuatan armada TN AL adalah 130 KRI, 12 Kapal Selam. TNI AU memiliki armada lebih dari 130 pesawat tempur dan 30 an pesawat pembom jarak jauh dan berpeluru kendali.

Logikanya kalau kita mau saat ini kita bisa mempercepat proses pengadaan alutsista. Tapi nyatanya mau beli 2 kapal selam saja prosesnya sampai 5 tahun belum kelar. Meskipun begitu kita ( seluruh rakyat Indonesia loh) berharap tahun ini sudah ada eksekusi pengadaan kapal selam minimal 4 buah agar dalam 3 tahun ke depan kekuatan kapal selam kita mencapai 6 unit. Demikian juga proyek Light Fregat dengan membangun minimal 10 PKR berjalan lancar. Proyek 100 KCR, proyek rudal Lapan, rudal C802, rudal Yakhont, rudal surface to air jarak sedang segera mengisi gudang arsenal kita.

Pengadaan tambahan 6 Sukhoi, hibah 24 F16, 9 Hercules, 24 UAV, 54 BMP-3F, 70 Tank IFV, 40 Panser Canon, 90 Meriam KH178 segera datang. Untuk 16 Super Tucano dan 16 T50 tinggal menyambut kedatangannya. Masih banyak jenis arsenal lain yang segara memenuhi kesatrian TNI di segala matra. Kalau di era Trikora pemenuhan kebutuhan alutsista dapat dipenuhi dalam waktu 2-3 tahun, pengadaan alutsista TNI saat ini setidaknya dapat dipenuhi tahun 2014 untuk kebutuhan tempur minimal.

Jadi Ambalat memang harus djaga dengan memamerkan kekuatan alutsista. Kalau perlu melakukan manuver diperairan itu secara lugas dan kontinu. Jangan beri celah militer Malaysia memasuki Ambalat. Itu jalan satu-satunya untuk menunjukkan eksitensi kedaulatan kita sekaligus kesiapan menghadapi konfrontasi militer berskala besar. Diplomasi oke dan jalankan tapi harus dikawal dengan kekuatan militer yang tangguh. Tidak bisa tidak. Dan kalau ini tidak bisa dilaksanakan akan menjadi dosa sejarah bagi khalifah yang memimpin negeri ini. Nilai plusnya sudah ada, pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih baik, cadangan devisa mencapai US$ 120 milyar, pendapatan per kapita sudah pencapai US$ 3.000, investasi menggemaskan dan lain-lain yang menunjukkan indikator ekonomi makro oke.

Sudah saatnya kita membangun kekuatan militer yang andal untuk mengawal Ambalat dan teritori lainnya dari unsur klaim dan melecehkan. Kita memang perlu minimal 180 pesawat tempur, 300 KRI, 12 Kapal selam dan arsenal strategis lainnya didukung oleh kekuatan minimal 600 ribu prajurit TNI.

Friday, May 28, 2010

The Curious Case of Soekarno Part 3

Adalah kebiasaan Presiden AS, John F. Kennedy menerima tamu-tamu negara di lantai atas Gedung Putih. Tapi protokol itu tidak berlaku bagi Sukarno, Presiden Republik Indonesia. Dan itu dinyatakan langsung kepada protokol Gedung Putih, “Kennedy mesti turun. Sambut saya di bawah. Kalau tidak, saya tidak akan datang.”

Entah bagaimana si petugas protokol itu menyampaikannya ke Kennedy. Tetapi yang jelas, ketika Bung Karno datang ke Gedung Putih, Kennedy turun ke ke lantai bawah, dan menyambutnya dengan ramah. Setelah ritual pertemuan dua kepala negara sekadarnya, barulah keduanya bersama-sama menaiki tangga ke atas, diiringi para staf kedua petinggi negara tadi.

Tuan boleh punya bom atom, tapi kami punya seni yang tinggi
Bukan hanya itu. Bung Karno bahkan diberi kesempatan berpidato di Gabungan Kongres dan Senat Amerika Serikat. Ini sangat jarang terjadi, Kepala Negara disambut di Amerika Serikat dengan Sidang Gabungan Kongres dan Senat.

John F. Kennedy dan Soekarno

O, ya… mundur sedikit ke belakang, ke saat di mana Bung Karno tiba di Gedung Putih, disambut Kennedy di bawah. Ketika itu, Kennedy sempat memperkenalkan para staf yang mendampinginya. Salah satunya adalah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Charles Wilson, nama lengkapnya Charless Nesbitt Wilson. Politisi kelahiran Texas tahun 1 Juni 1933, alias satu zodiak dengan Bung Karno.

Charles Wilson

Ketika diperkenalkan, Wilson yang berperawakan gagah dan berwajah macho, maju hendak menyalami Presiden Sukarno. Saat itulah muncul spontanitas humor diplomasi yang sungguh luar biasa dari seorang Sukarno, presiden negara berkembang yang belum lama lepas dari penjajahan Belanda.

Kepada Wilson, Bung Karno tidak sekadar mengulurkan tangan untuk bersalaman. Lebih dari itu, Bung Karno dalam bahasa Inggris yang fasih berkata, “Kombinasi baju dan dasi Tuan tidak bagus,” berkata begitu sambil Bung Karno membetulkan ikatan dasi yang kelihatan miring. Selesai merapikan dasi Menhan Amerika Serikat, Bung Karno melanjutkan ucapannya, “Tuan boleh punya bom atom, tapi kami punya seni yang tinggi.”

Bayangkan, mental siapa yang tidak koyak. Apalagi Bung Karno melakukan semua gerakan dan ucapan tadi dengan sangat penuh percaya diri, disaksikan begitu banyak orang. Dari hal-hal kecil seperti itulah, dignity, harga diri kita sebagai bangsa dibangun oleh Bung Karno, sehingga Indonesia tidak dipandang sebelah mata.

Sumber : http://walentina-waluyanti.nl

The Curious Case of Soekarno Part 2

Selama periode itu, Bung Karno main tarik ulur dengan pembebasan Pope. Tarik ulur itu berjalan alot. Karena Bung Karno ogah melepaskan Pope begitu saja. Bung Karno sengaja berlama-lama "memiting leher" Allan Pope sebelum Amerika meng-iya-kan permintaan Indonesia. Amerika mati kutu. Tak ada jalan lain. Negosiasi pun segera dimulai. Negosiasi alot yang memakan waktu 4 tahun, sebelum akhirnya Allen Pope benar-benar bebas.

Dimulai dengan Ike atau Eisenhower yang membujuk, merayu dan mengundang Bung Karno ke Amerika. Namun sesudahnya Bung Karno tetap tidak mau tunduk diatur-atur Ike. Situasi mulai berubah sedikit melunak setelah kursi kepresidenan AS beralih ke John F. Kennedy.

John Kennedy tahu, kepribadian Soekarno sangat kuat dan benci di-dikte. Karena itu dengan persahabatan dia mampu "merangkul" Soekarno. "Kennedy adalah presiden Amerika yang sangat mengerti saya", kata Bung Karno.

Dengan John, negosiasi mulai mengarah ke titik terang. Berkaitan itu pula, John mengirim adiknya Robert Kennedy ke Jakarta. Robert membawa sejumlah misi, diantaranya: "bebaskan Pope".

John F. Kennedy dan Soekarno

Konon ketika itu juga Amerika mengirim istri Allen Pope yang cantik. Perhitungannya, wanita cantik mampu meluluhkan hati Bung Karno. Ini asal mula beredar issue bahwa Bung Karno dirayu istri Allen Pope. Yang tidak banyak disebutkan orang, yaitu ibu dan saudara perempuan Allen Pope juga datang memohon-mohon dengan tangisan minta belas kasihan Bung Karno.

Buat Bung Karno, pilot itu dibebaskan atau tidak dibebaskan, hasilnya sama saja. Yaitu tidak membuat korban-korban bom si pilot bisa hidup kembali. Jadi kenapa tidak memanfaatkan saja ketakutan Amerika yang ciut kalau pilot itu buka mulut?

Bung Karno memainkan kartu trufnya atas dasar apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia pada waktu itu. Indonesia betul-betul sengsara dan kelaparan, jadi butuh uang dan nasi. Indonesia sedang bertempur melawan Belanda untuk merebut Irian Barat. Jadi butuh senjata, sejumlah perangkat perang dan armada tempur.

Permintaan Bung Karno itu tentu saja tidak disampaikan dengan cara mengemis. Tapi dengan cara yang menyeret Amerika untuk membuat interpretasi diplomatik. Mau tidak mau, isyarat diplomatik Soekarno bikin Amerika harus bisa membaca yang tersirat di balik yang tersurat.

Dibanding Ike alias Eisenhower, John Kennedy lebih peka membaca isyarat itu. Itulah yang dimaksud Bung Karno bahwa John Kennedy mengerti dirinya. Kennedy tidak cuma sekedar mengundang Bung Karno ke Amerika untuk plesiran. Tapi juga ada tindak lanjut nyata di balik undangan diplomatik itu.

John paham Indonesia butuh perangkat perang untuk merebut Irian Barat. Di antaranya armada tempur. Karena itu diajaknya Bung Karno mengunjungi pabrik pesawat Lockheed di Burbank, California. Di sana Bung Karno dbantu dalam pembelian 10 pesawat hercules tipe B, terdiri dari 8 kargo dan 2 tanker.

Lockheed, Burbank California

Negosiasi pembebasan Allen Pope antara Ike dan Bung Karno tadinya alot. Tapi jadi licin jalannya dengan John. Dia tidak pelit membalas "kebaikan" Bung Karno yang memenuhi permintaan AS untuk membebaskan Allen Pope.

Allan pope diadili

Hasilnya? Hercules dari Amerika, menjadi cikal bakal lahirnya armada Hercules bagi AURI (armada yang kelak ikut bertempur merebut Irian Barat). Bung Karno bisa membuat Amerika menghentikan embargo. Lalu menyuntik dana ke Indonesia. Juga beras 37.000 ton dan ratusan persenjataan perangkat perang. Kebutuhan itu semua memang sesuai dengan kondisi Indonesia saat itu.

Ternyata begini ini yang namanya negosiasi tingkat tinggi. Akhirnya Allen Pope dibebaskan secara diam-diam oleh suatu misi rahasia di suatu subuh, Februari 1962. Negosiasi itu seluruhnya tentu makan biaya yang tidak sedikit. Siapa yang mesti membayar semua itu? Konon rekening Permesta yang harus membayar ganti rugi akibat negosiasi itu. Sempat terdengar selentingan bahwa jalan by pass Cawang-Tanjung Priok dan Hotel Indonesia lama di Bundaran HI Thamrin, adalah wujud dari ganti rugi itu. Benarkah demikian? Wallahualam.

Sayang hubungan mesra Bung Karno dengan Amerika berakhir setelah Kennedy terbunuh tahun 1963. Terbunuhnya Kennedy membuat CIA kembali leluasa mewujudkan mimpi lama yang sempat terhenti. Yaitu terus mengguncang kursi Bung Karno, hingga Putra Sang Fajar itu akhirnya benar-benar terbenam. Kita semua tahu bagaimana akhir episode itu.

Sumber : http://walentina-waluyanti.nl

The Curious Case of Soekarno Part 1

Saya mendapatkan artikel menarik tentang sepenggal kisah dari mantan Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, yang akan saya bagi ke dalam beberapa bagian dalam blog saya ini, semoga dapat menambah pengetahuan dan rasa cinta tanah air terhadap negeri Indonesia ini, selamat membaca :

Ketika Amerika "Terpaksa" tunduk pada Soekarno
Bung Karno geram. Ike mencoba merayunya, "Tolong bebaskan pilotku". Tapi Bung Karno tetap saja geram. Mungkin juga karena yang merayu Soekarno adalah Ike, seorang pria tua. Ike itu adalah nama panggilan D. Dwight Eisenhower, presiden AS di masa itu. Kali ini Amerika memang kena batunya.

Negara digdaya itu dibikin malu Indonesia ketika pilotnya, Allen Pope ditembak jatuh di pulau Morotai. Lebih malu lagi, karena dengan tertangkapnya pilot itu, kedok AS dan CIA akhirnya terbuka. Kedok yang membuktikan AS melalui CIA sudah main api dengan petualangannya di balik pemberontakan separatisme di Indonesia. Termasuk juga infiltrasi AS yang mempersenjatai para pemberontak itu. Ini yang bikin Bung Karno geram, dan mulai memainkan kartu trufnya.

Soekarno dan Eisenhower

Bung Karno yang tadinya dikerjai Amerika, sekarang balas mengerjai Amerika. Bung Karno sadar, tertangkapnya Allen Pope mendongkrak posisi tawar Indonesia di hadapan Amerika. Cerita selanjutnya adalah bagaimana Ike dan John F. Kennedy jadi repot dibuatnya.

Inilah moment bersejarah ketika Indonesia yang miskin untuk pertama kalinya punya posisi tawar tinggi di hadapan "juragan kaya", Amerika.

Bung Karno tidak cuma menuntut Amerika mesti minta maaf. Tapi masih ada sederet permintaan lain yang bikin Amerika "maju kena mundur kena". Eisenhower minta Indonesia melepaskan pilot Allen Pope. Tapi Bung Karno tidak mau melepas begitu saja dengan gratis. Pilot itu adalah kartu truf-nya.

Allen Pope

Inilah kisah bagaimana Bung Karno dengan amarah "memiting leher Allen Pope" sambil telunjuknya memberi isyarat agar Amerika mau bersimpuh di kaki Bung Karno (tentu saja ini hanya simbolisasi teatrikal).

Gantung Allen Pope! Hukum mati Allen Pope! Begitu gelombang protes di depan kedutaan AS di Jakarta setelah Allen Pope tertangkap. tahun 1958 itu . Rakyat Indonesia memang dibikin naik darah oleh kelakuan Allen Pope. Soalnya si pilot ini sudah menjatuhkan bom di Ambon yang memakan tak sedikit korban jiwa.

Di tengah suasana panas itu, teman-teman Mas Tok atau Guntur Soekarnoputra tidak berhenti menjejalinya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pilot Allen Pope.

Percakapan Bung Karno dengan putra sulungnya berkaitan hal itu, sudah banyak diungkap berbagai sumber. Tapi sebetulnya ada yang lebih penting lagi di balik percakapan antara Bung Karno dan Mas Tok berikut ini.....

Bung Karno sedang mandi. Mas Tok yang masih remaja menggedor-gedor pintu kamar mandi. Tidak sabar. Karena pintu terus digedor, Bung Karno melongok sebentar. "Ada apa tho Mas Tok? Bapak belum selesai mandi".

Begitu pintu terbuka, Mas Tok langsung menyambar ayahnya dengan pertanyaan, "Bener nggak sih bapak menukar pembebasan Allen Pope dengan tebusan pesawat Hercules?". Mas Tok memang tidak sabaran ingin segera tahu jawabnya. Saat itu juga dia harus mendapatkan bocoran jawabannya. Memang sebelumnya di antara teman-temannya, mereka sudah kasak-kusuk membenarkan gosip itu. Mas Tok jadi panas juga. Soalnya sebagai anak Bung Karno, seharusnya dia lebih tahu dari teman-temannya.

Mas Tok yang penasaran tidak perlu menunggu lama menanti jawab ayahnya. Pertanyaan Mas Tok itu langsung disambar dengan tawa khas ayahnya. Menggelegar, "Hahahahaha......biar saja Amerika kasih Hercules itu buat Bapak. Kalau Amerika kirim pesawat lagi, nanti Bapak suruh tembak lagi. Sebagai tebusannya, Bapak minta Marilyn Monroe dan Ava Gardner".

Itu humor khas Bung Karno. Humor seorang negarawan nyentrik. Cara Bung karno bercanda dengan politikus sejawatnya sehari-hari, tidak beda jauh dengan guyonan-nya dengan anak-anaknya. Mas Tok dan adik-adiknya sudah hafal adat ayahnya. Dasar Bung Karno!

Tapi sebetulnya di balik canda itu, mungkin bahkan Bung Karno dan Mas Tok sendiri waktu itu belum menyadari sesuatu. Yaitu buntut dari posisi tawar Indonesia tadi, Bung Karno telah memulai tonggak lahirnya sejarah armada baru bagi AURI, yaitu lahirnya skuadron Hercules di Indonesia. Armada ini kelak turut punya andil dalam merebut Irian Barat dari Belanda.

Itu semua berawal dari negosiasi tarik ulur demi pembebasan seorang pilot yang bikin Amerika gelisah. Bagaimana tidak? Soalnya kalau tidak segera diselamatkan, bisa-bisa pilot itu buka mulut tentang info rahasia yang berkaitan dengan permainan CIA.

Dulu serangan Maukar ke Istana didesas-desuskan akibat Bung Karno menggoda tunangan sang pilot.
Gosip selanjutnya menghantam Bung Karno lagi. Yaitu pembebasan pilot Allen Pope digosipkan karena Bung Karno dirayu oleh istri Pope, yang sengaja didatangkan dari Amerika. Walaahhh....

Kedengaran kayak gosip murahan. Tapi tunggu dulu! Sejarah kadang memang diwarnai gosip murahan, yang bermuara pada hasil yang tidak murahan. Konon itu yang namanya intrik politik tingkat tinggi. Intrik yang menggunakan sisi kelemahan Bung Karno. Kelemahan apalagi kalau bukan soal perempuan? Mentang-mentang Bung Karno mata keranjang.....

Bung Karno memang mata keranjang. Tapi pihak yang anti Bung Karno kadang memanipulasi sisi ini secara berlebihan. Sama halnya CIA yang menggunakan kelemahan don yuan-nya Bung Karno untuk menjatuhkan kredibilitas presiden RI di mata rakyatnya. Menjatuhkan Bung Karno adalah satu-satunya cara agar Amerika bisa bercokol kuat di Indonesia. Sudah dicoba segala cara agar Bung Karno jatuh, tidak berhasil juga. Dicoba dengan cara ancaman embargo, penghentian bantuan.....ehhh Bung Karno malah teriak, "Go to hell with your aid!".

Go to Hell with your aid

Akhirnya CIA pakai cara lain. Yaitu infiltrasi ke berbagai pemberontakan di Indonesia. Puncaknya terjadi dalam pertempuran di pulau Morotai, tahun 1958. Ketika itu TNI (pasukan marinir, pasukan gerak cepat AU, dan AD) menggempur Permesta, gerakan pemberontakan di Sulawesi Utara.

Persenjataan Permesta tidak bisa dianggap enteng. Soalnya ada bantuan senjata dari luar. Tadinya tudingan bahwa CIA adalah biang kerok semua ini masih dugaan saja. Ketika kapal pemburu AL dan mustang AU melancarkan serangannya, satu pesawat Permesta terbakar jatuh.

Sebelum jatuh, ada dua parasut yang tampak mengembang keluar dari pesawat itu. Parasut itu tersangkut di pohon kelapa. TNI segera membekuk dua orang. Yang satu namanya Harry Rantung anggota Permesta. Dan yang tak terduga, satunya lagi bule Amerika. Itulah si pilot Allen Pope. Dari dokumen-dokumen yang disita, terkuak Allen Pope terkait dengan operasi CIA. Yaitu menyusup di gerakan pemberontakan di Indonesia untuk menggulingkan Soekarno.

Tak pelak lagi, tuduhan bahwa Amerika dengan CIA adalah dalang pemberontakan separatis, bukan isapan jempol!

B-26 tertembak jatuh

Peristiwa tertangkapnya Allen Pope adalah tamparan bagi Amerika. Itu mungkin terwakili dalam kalimat Allan Pope ketika tertangkap. Setelah pesawat B-26 yang dipilotinya jatuh dihajar mustang AU dan kapal pemburu AL, komentar Pope: "Biasanya negara saya yang menang, tapi kali ini kalian yang menang". Setelah itu dia masih sempat minta rokok.

Tapi sebetulnya yang lebih bikin malu Amerika bukan soal kalah yang dikatakan Pope tadi. Tapi tertangkapnya Allan Pope mengungkap permainan kotor AS untuk menggulingkan Soekarno. Amerika terus ngeyel menyangkal. Tapi bukti-bukti yang ada, akhirnya membungkam mulut Amerika.

Taktik kotor itu jadi gunjingan internasional. Tanpa ampun, kedok Amerika dengan CIA-nya berhasil dibuka Indonesia, lengkap dengan bukti-bukti telak. Amerika terpaksa berubah 180 derajat menjadi baik pada Soekarno. Semua operasi CIA untuk mengguncang Bung Karno (untuk sementara) dihentikan.

Amerika berusaha mati-matian minta pilotnya dibebaskan. Segala cara pun mulai dilakukan untuk mengambil hati Bung Karno. Eisenhower mengundang Soekarno ke AS bulan Juni 1960. Lalu Soekarno juga diundang John Kennedy di bulan April 1961. Di balik segala alasan diplomatik tentang kunjungan itu, tak bisa disangkal itu semua buntut dari cara Bung Karno memainkan kartunya terhadap Amerika.

Sumber : http://walentina-waluyanti.nl