Monday, May 10, 2010

Kisah Kompi X di Rimba Siglayan Kal-tim

Tidak terbayangkan sebelumnya, bahwa Tuhan mentakdirkan anggota Kompi X yang berasal dari Lembaga Pendidikan Marinir di Surabaya suatu saat harus memperingati hari kemerdekaan di tengah hutan Kalimantan. Tetapi itulah kehidupan manusia, ada “kekuatan” yang menentukan jalan hidup masing-masing umatnya.

Kami para pelatih dan pembantu pelatih yang biasanya memperingati hari besar di tengah kota Surabaya atau di medan latihan tempur Purboyo di daerah Malang selatan, sekarang harus melaksanakan tugas operasi di hulu S.Siglayan Kalimantan Timur bagian utara dekat dengan wilayah Malaysia, Sabah sebagai seorang Komandan, saya merasakan situasi kegamangan dan kesedihan yang cukup menekan perasaan, karena dalam kondisi yang jauh dari kesatuan induk, berada di lokasi yang sangat terpencil dan terpisah dari kesatuan lainnya, harus mampu menegakkan disiplin dan sekaligus memelihara semangat tempur dalam kondisi yang serba terbatas, kalau tidak mau menyebut sebagai serba kekurangan. Di tempat ini kami sudah bertugas selama tiga bulan lebih, dan sebelumnya bertugas di pulau Nunukan sejak Desember 1965.

Saya tahu kalau saat seperti ini khususnya menjelang 17 Agustus, anak buah tentu sedang membayangkan upacara besar ini di Jakarta atau Surabaya. Tetapi kesedihan ini tidak lama saya rasakan, karena kemudian Tuhan telah mengubah dan memberi petunjuk, agar saya tidak larut dalam kebimbangan. Kondisi seperti ini justru merupakan tantangan bagi seorang komandan, agar menjadi tegar dan bagaimana seharusnya dapat memanfaatkan situasi dan kondisi yang mencekam ini dapat diubah menjadi situasi yang menyenangkan.


Dan yang lebih penting, adalah bagaimana mengembalikan semangat anak buah yang mulai melemah, karena jenuh dalam lingkungan hutan yang sepi, agar mereka dapat bergairah lagi menghadapi kenyataan hidup, timbul kembali semangatnya yang baru serta tetap tegar menghadapi kondisi saat itu. Saya mempunyai keyakinan bahwa Tuhan telah memberikan petunjuk yang cukup jelas, dengan menunjukkan cara-cara bagaimana membangun kembali semangat tempur anggota marinir sebagai pasukan yang memiliki motto “pantang mundur mati sudah ukur “

Situasi politik pada awal dan pertengahan tahun “60-an dipenuhi udara panas bagi bangsa dan pemerintah Indonesia, karena adanya gagasan pembentukan negara federasi baru, Malaysia, yang merupakan gabungan antara Malaya (Persekutuan Tanah Melayu) yang sudah merdeka sejak tahun 1957 dengan Serawak, Brunei dan Sabah (Kalimantan Utara jajahan Inggris) Pemerintah Indonesia merasakan adanya upaya sistematis untuk mengepung NKRI di sebelah utara, sedangkan dari sebelah selatan sudah dijepit oleh Australia dan Selandia Baru.

Bangsa lndonesia merasakan adanya gerakan yang diprakarsai oleh Nekolim (Neokolonialis), yang akan merugikan Indonesia sebagai negara yang menganut politik bebas dan aktif dalam politik luar negerinya. Bersama Filipina, Indonesia pada saat itu menentang berdirinya negara baru Malaysia. Filipina mempunyai klaim terhadap Sabah. karena menurut data yang dimilik pemerintah Filipina, Sabah pada masa lalu adalah wilayah kerajaan Sulu, yang sekarang merupakan wilayah Filipina.

Itulah mengapa kemudian timbul konfrontasi antara Indonesia disatu pihak, menghadapi Malaya, Inggris yang dibantu Australia dan Selandia Baru dipihak lain.
Dalam rangka itulah telah dikirim masing-masing dua Brigade Pendarat Marinir ke perbatasan Indonesia. Satu Brigade di P.Batam (Kepulauan Riau) dan satu Brigade di P.Nunukan dan Sebatik (Kalimantan Timur)

Kiprah Kompi “X”
Makin mendekati hari kemerdekaan, saya pikir harus berbuat sesuatu yakni dengan mencoba menggunakan momen ini untuk menggelorakan semangat anggota yang sudah mulai lelah. Setelah tiga bulan di hutan, yakni bulan Mei, Juni dan Juli 1965 semangat anggota kompi X makin menurun. Maklum, tinggal dalam hutan yang sunyi dan benar-benar terisolasi baik dari kesatuan induk (Batalyon dan Brigade) maupun terpisah dengan penduduk setempat, memang terasa seperti memanggul beban yang sangat sangat berat terutama dari segi mental.

Coba anda rasakan setiap hari hanya memandang pohon-pohon yang tingginya lebih 30 meter, semak yang sama, bahkan sinar matahari yang tidak sepenuhnya mampu menembus rimbunnya dedaunan hutan, menciptakan kesunyian, ketersendirian dan juga kelengangan yang setiap hari makin memuncak. Udara selalu lembab. Tidak ada aroma lain kecuali bau daun kering dan daun busuk apalagi pada malam hari, hanya dapat mendengar suara beruang yang sedang berkelahi, suara monyet dan suara kepakan sayap kelelawar besar, yang melintas diatas pepohonan, makin menekan mental masing-masing prajurit.

Dipihak lain kami tahu lawan gabungan pasukan Inggris-Malaysia hanya dua bulan mampu bertahan di hutan seperti ini dan setiap dua bulan sudah diganti dengan pasukan baru. Dari segi pengiriman logistik mereka lebih teratur pula pengirimannya. Kami sering melihat pengiriman logistik untuk pasukan Inggris di wilayah Sabah dilakukan melalui udara dengan menggunakan parasut yang dijatuhkan ke tengah hutan di tempat mereka bertugas. Kami, boro-boro dikirim, tetapi dibebankan pada kompi, yang setiap bulan sekali harus mengambil sendiri ke Nunukan menggunakan perahu bermesin tempel 40 PK. Karena itu, setiap bulan, secara bergilir, ada anggota yang mendapat giliran ‘’cuti” ke Nunukan, sambil belanja kebutuhan sehari-hari dengan uang lauk-pauk yang sangat terbatas Bagi yang mendapat giliran belanja ke Nunukan, rasanya seperti mendapat kesempatan melihat dunia luar karena dapat bertemu dengan orang lain termasuk penduduk.

Karena itu, untuk mengurangi beban mental para anggota kompi X, mereka selama di pedalaman ini berusaha menghibur diri dengan cara masing-masing antara lain memanjangkan rambutnya. Setelah rambut panjang ada yang berinisiatif untuk mengikat rambutnya dengan pita seperti layaknya gaya rambut ekor kuda bagi remaja dan gadis-gadis di Surabaya.

Berbicara sehari-haripun harus pelan dan nyaris berbisik. Karena di tengah hutan begini sangat dilarang berbicara dengan suara keras, kami menjadi terbiasa berbicara dengan berbisik-bisik. Hiburan tidak ada sama sekali. Radio tidak ada. Lain dengan kompi Brahma, kompi sukarelawan gabungan marinir dan sipil lokal, setiap peleton Sukwan, mereka mendapat radio Philips transistor. Karena itu saya sering menumpang dengar berita melalui radio mereka. Sayang sekali untuk mendengar siaran RRI sangat sulit. Yang paling mudah adalah mendengarkan radio Malaysia. Tentu saja. isi beritanya sangat berlawanan. Berita konfrontasi, tentu menjelek-jelekkan aktivitas pasukan kita. Demikian pula berita nasionalnya tentu membuat telinga kita bisa menjadi merah karena isinya mesti menjelek-jelekkan pemerintah RI.

Yang lucu, siaran radio masing-masing pemerintah dalam akhir pidato atau peryataan resmi pemerintah, selau diakhiri dengan menyatakan:“ Tuhan beserta kita” Komentar para anggota yang mendengarkan:“ Kasihan, Tuhan bisa bingung kalau begini, habis masing-masing negara mau memonopoli Tuhan. Terserah. Mau membela Indonesia atau Malaysia”, karena setiap pemerintah, baik Indonesia maupun Malaysia ingin agar Tuhan hanya membela negaranya.

Sampai bulan Agustus, musim hujan masih terus berlangsung hampir tiap malam turun hujan. Kadang-kadang hujan turun sangat lebat yang disertai angin kencang. Kalau cuaca sudah begini, kami makin ngeri karena biasanya kalau sudah ada angin begini banyak pohon tumbang akibat tanah yang menjadi lembek, atau dahan yang patah, jatuh kebumi. Suaranya sampai terdengar dari kejauhan.

Rasanya makin NGLANGUT, karena tidak ada yang dapat membantu kalau terjadi apa-apa. Inilah risikonya terpisah dari induk pasukan Bila sudah begini yang dapat dilakukan hanya berdoa. Tetapi dengan kekuatan doa kami, Tuhan rupanya masih menaruh belas kasihan pada kompi X. Selama enam bulan, mulai Mei sampai Oktober 1965 di tengah hutan dan terpisah dari masyarakat manusia tidak ada satupun pohon maupun dahan yang jatuh di barak kami.

Bagi saya selaku pimpinan. maupun anggota pada umumnya. hiburan satu-satunya yang paling diharapkan adalah kedatangan surat dari keluarga atau kawan-kawan dari Surabaya. Bagi saya yang mempunyai kebiasaan membaca terutama sebelun tidur, sangat memerlukan bacaan dan bacaan yang saya dapat, baik kiriman dari Surabaya maupun yang saya peroleh dari markas batalyon, sangatlah mengembirakan. Majalah apapun, bagi saya merupakan hiburan yang sangat berarti, termasuk majalah “Mangle” terbitan Bandung yang berbahasa Sunda.

Walaupun saya tidak begitu paham bahasa ini, namun masih dapat mengerti isinya secara umum, terutama karena jasa baik seorang anggota, ditolong oleh salah seorang caraka, prajurit marinir Suhanda yang berasal dari Purwakarta.Jadi kalau ada kata-kata yang saya tidak mengerti, saya panggil Suhanda untuk menerjemahkan kalimat tertentu. Kadang-kadang kalau lagi mujur, saya dapat memperoleh majalah bulanan “Intisari” dari markas batalyon kalau kebetulan ada tamu yang datang dari Jakarta atau Surabaya. Pada waktu malam, karena hutan yang gelap namun saya masih berusaha membaca walaupun hanya dari sinar temaram, dengan penerangan sebatang lilin.

Seminggu menjelang tanggal 17 Agustus tahun 1965 saya minta para perwira dan bintara yang ada untuk mengadakan pertemuan, dengan fokus pembicaraan bagaimana caranya agar anggota kompi X dapat merayakan hari nasional ini walaupun sedang berada di tengah hutan. Saya jelaskan tujuan pertemuan dan tujuan perayaan, yakni pertama, memperingati hari kemerdekaan sekaligus mengembalikan semangat perjuangan membela negara dan bangsa. Akhirnya diputuskan untuk melaksanakan kegiatan sebagai berikut: Pada tanggal 17 Agustus kompi harus mengadakan perayaan, tetapi tetap harus waspada terhadap kemungkinan serangan mendadak lawan. Pada hari itu, semua anggota harus berseragam lengkap sebagaimana seragam tempur marinir termasuk menggunakan helm, yang selama pasukan di tengah hutan tidak pernah lagi dikenakan.

Dua pertiga pasukan melakukan upacara penaikan bendera, sedangkan sepertiga tetap siap tempur menjaga lingkungan upacara. dan pos jaga masing-masing seperti yang sudah ditentukan sebelumnya, mereka bertanggungjawab bila ada pendadakan. Sebagai “lapangan upacara” dicari tempat yang lapang dan rata, yakni dibawah sebatang pohon besar yang rindang Semak belukar dibawah pohon dibersihkan dan daun-daun kering di bawah pohon disapu bersih.

Di tengah lapangan upacara didirikan sebatang kayu untuk pengibaran bendera sang merah putih dengan tali batang rotan yang kecil tetapi cukup kuat. Sekarang untuk pestanya, selelah upacara selesai, harus ada suasana baru. Diputuskan, hari istimewa itu seluruh anggota akan makan ketupat. Bahannya pembungkusnya (sarang ketupat) gampang ambil saja daun nipah yang masih muda dianyam menjadi sarang ketupat. Sekarang, apa yang pantas menjadi lauknya. Kami putuskan untuk mendapatkan daging, segar. Caranya, kami bentuk empat tim pemburu untuk mencari babi hutan. Kebetulan pada bulan Juli - Agustus sedang musim buah terutama cempedak hutan. Babi biasanya mudah ditemui pada musim buah ini.

Dua hari menjelang tanggal 17, empat tim yang sudah ditunjuk berangkat keempat penjuru untuk mencari dan menembak babi. Untuk sementara larangan menembak dicabut. Dalam keadaan “normal” letusan senjata berarti kontak dengan musuh, dan demi kerahasiaan, dilarang menembak tanpa tujuan yang jelas.
Nasib untung masih berfihak pada kami, pada sore hari ketika tim pemburu ini kembali, mereka datang sambil memikul empat ekor babi hutan.

Sementara itu pada tanggal 16 Agustus, untuk membuat musuh panik, saya perintahkan seksi mortir 81 dikawal satu regu untuk menyerang pos musuh dengan menggunakan mortir 81. Tentu sangat sulit untuk menembakkan mortir di tengah hutan yang tertutup semacam hutan Siglayan ini. Harus dapat menemukan lubang agar dapat menembak. Tetapi mereka tidak kurang akal. Pada suatu medan yang agak terbuka, mereka berhasil menembakan enam peluru mortir 81 dengan jarak sejauh mungkin, sekitar tiga setengah kilometer. Setelah berhasil menernbakkan enam butir peluru secara beruntun, pasukan kembali secepat mungkin agar tidak dapat dibaring dan dibalas oleh musuh.

Menurut data intel yang kemudian kami peroleh dari penduduk sipil yang berhasil masuk ke Tawao, serangan ini berhasil mengenai sasaran dan menewaskan satu orang. Rupanya, lawan juga sudah mengantisipasi kemungkinan kami menyerang pada sekitar tanggal 17 Agustus ini. Tetapi karena kami menyerang sehari sebelumnya, mereka panik, dan mengira kami akan menyerang secara besar-besaran. Buktinya, tepat pada tanggal 17 musuh menembaki seluruh hutan itu dengan mortir selama satu hari penuh. Kami hanya menyambut dengan santai. Tidak perlu dibalas, karena tembakan mereka sangat tidak terarah. Maklum tembakan orang lagi panik. Tanggal 17 Agustus pagi kami siap mengadakan upacara penaikan bendera. Jam delapan, pasukan pengaman sudah menempati pos masing-masing. Seluruh anggota berpakaian tempur lengkap.

Jam sembilan kurang seperempat, pasukan upacara sudah siap di lapangan upacara. Jam sembilan kurang lima menit saya selaku pemimpin upacara memasuki lapangan upacara. Sersan Mayor Zaini, bintara peleton satu, menjadi komandan upacaranya. Penaikan bendera dimulai dilakukan oleh Kopral Adam dan seorang prajurit, diiringi lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruh peserta upacara. Tiba-tiba menjelang bendera sampai kepuncak tiang, rotan tali bendera putus. Lagu kebangsaan berjalan terus. Terpaksa tiang dicabut, bendera diikatkan di puncak tiang, tancapkan lagi ditempat semula, Namun upacara tidak terganggu oleh insiden ini, tetap khidmat Semua anggota merasakan suasana anggunnya upacara memperingati hari kemerdekaan ini walaupun ada sedikit gangguan putusnya tali bendera.(kepercayaan yang berkembang, bila tali bendera putus pada waktu upacara, biasanya akan ada peristiwa yang gawat, mendebarkan)

Dalam pidato sebagai amanat inspektur upacara, saya mencoba memberikan semangat dengan menjelaskan mengenai tugas kompi X maupun anggota Kompi Brahma (satu peleton) sebagai prajurit yang sedang melaksanakan tugas suci karena mengemban tugas negara walaupun sekarang sedang berada di tengah hutan di perbatasan Kalimantan Utara, jauh dari Surabaya sebagai “homebase” kompi X maupun pasukan induk, yang ada di Pulau Nunukan, tetapi pasukan harus tetap tabah menghadapi situasi dan kondisi saat ini. Jangan berfikir yang tidak-tidak seperti merasa dibuang dan seterusnya. Kita adalah ksatria yang pantang menyerah.

Saya perhatikan reaksi para prajurit, mereka rupanya mendengarkan apa yang saya sampaikan dengan serius. Saya merasa puas. Selesai upacara diadakan perlombaan lari karung jarak duapuluh meter, diteruskan lempar gelang rotan. Hadiahnya korned dan abon. Suasana cukup meriah. Setidaknya sejenak melupakan situasi tegang selama ini. Selesai perlombaan, semua menikmati makan ketupat dengan lauk daging babi bagi yang mau, sementara yang tidak mau makan dengan lauk sarden dan “corned beef” kalengan. Semua masakan sudah dimasak semalam jadi sekarang sudah dingin. Karena selama barada ditengah hutan, dilarang keras masak pada siang hari. Namun demikian, suasananya sungguh berbeda. Ada kegembiraan yang dalam beberapa hari sebelumnya sudah sirna.

Menjelang tanggal 31 Agustus 1965, datang peringatan dari batalyon melalui radio GRC-9, mengingatkan hari kemerdekaan Malaysia yang akan jatuh pada tanggal 31Agustus 1965, supaya kompi yang ada di Siglayan waspada. Sebenarnya peringatan itu tidak begitu perlu. Kami sudah siap menghadapi mereka kalau memang berani datang menyerang. Pedoman Marinir “pantang mundur”, terus bergema dibenak masing-masing anggota. Pertempuran di dalam hutan berarti pertempuran jarak sangat dekat. Ternyata tanggal 30 dan tanggal 31 Agustus tidak ada kegiatan lawan. Kami agak mengendorkan kesiagaan.

Tanggal 1 September 1965 sekitar jam sembilan pagi secara tak terduga kami diserang dengan rentetan tembakan senjata ringan secara serentak. Dari arah depan kiri. Karena terkejut, ada anggota di lapis depan yang langsung panik dan saya mendengar ada yang mengatakan :“mundur...”. Saya segera maju, kupertahanan peleton dua untuk mencari sumber tembakan. Beberapa anggota sudah ada yang bergerak mundur saya segera bertindak. Sambil membentak ‘tetap ditempat” diiringi suara kepala regu satu pleton satu, Sersan Suprapto dibelakang saya “ dengarkan suara tembakan, dari mana arahnya”. Teriakan ini membuat pasukan menjadi tenang kembali. Semua siap menghadapi kemungkinan serangan lanjutan.

Semua segera tiarap dengan memegang senjata masing-masing. Dalam situasi menunggu, saya perin-tahkan mencari awak mortir 81 untuk segera masuk seteling. Ternyata me-reka tidak ditempat. Kemarin, me-mang ada pergantian awak mortir Karena itu, mereka empat orang dipimpin seorang kopral sedang mencari kayu untuk mendirikan baraknya. Tidak lama kemudian mereka muncul sambil terengah-engah “Siapkan mortir siap menembak” Saya perintahkan segera. Karena mereka hanya ada empat orang dan harus melayani dua pucuk mortir, mereka gugup dan kewalahan. Saya perintahkan anggota yang berdekatan, kopral Adri Waroka dan prajurit lainnya untuk membantu menyiapkan peluru mortir.

Tidak lama kemudian terdengar bunyi peluru meriam mendekat. Ses-ses-ses..........Dan disusul bunyi ledakan di sebelah kiri petak pertahanan. Untung peluru pertama musuh jatuh sekitar 500 meter disamping kami, tidak mengenai seorangpun. Bau mesiu makin merangsang semangat tempur kami. Kini kami benar-benar sudah siap untuk bertempur. Segera terjadilah saling tembak yang kurang seimbang. Musuh menggunakan artileri, jarak tembaknya bisa lebih jauh dan tembakan mortir karena kami hanya menggunakan dua pucuk mortir.

Saya minta satu pucuk menembak dengan jarak maksimal dengan isian penuh, satu pucuk melindungi pasukan kawan di seberang sungai, disana ada dua regu yang menembaki pos di seberang sungai, setiap regu terpisah satu di sebelah kiri depan kompi, satu lagi regu yang menjaga “Pos Tanah Merah’’. Pos inilah yang mendapat serangan pertama. Rupanya musuh masih mempunyai data awal, yaitu terbukti hanya menembaki barak yang pertama dibuat yang lokasinya lebih ke hulu sungai, persis di belokan Siglayan, tempat para gerilyawan memasuki Sabah pada tahun 1963. Sedang kedudukan kami sekarang sudah mundur lebih 500 meter lebih ke belakang.

Pos pertama ini sudah beberapa kali mendapat kiriman peluru meriam musuh. Karena itu, tembakan musuh jatuh di samping kiri depan kedudukan kami atau jatuh di depan kami di rawa-rawa, jadilah hari itu tembak menembak sampai berhenti total jam empat sore. Hanya menjelang peluru meriam akan jatuh ke tanah, kecepatan peluru sudah lemah dan mengeluarkan bunyi ses... ses... ses, kami harus waspada. Itu artinya peluru sudah hampir tiba. Semoga tidak jatuh di daerah posisi sekarang.

Menghadapi ulah peluru demikian, hati menjadi ciut, karena tidak tahu dimana peluru itu akan kehabisan tenaganya. Dan kami hanya bisa berdoa Tuhan, lindungi kami. Yang jelas, bagi pasukan yang pernah mendapat serangan meriam seperti ini, kalau dia selamat, akan menjadi kenang-kenangan yang indah dalam hidupnya Sementara itu, musuh mengirimkan pelurunya secara terus-menerus dan lebih cepat. Mungkin mereka menembak dengan enam pucuk meriam sedang kami hanya memiliki dua pucuk mortir 81. Itupun masih kami anggap untung, karena sebelumnya kami hanya memiliki AK dan RPD saja.

Dengan adanya tembakan balasan dari kami, musuh akhirnya lari terbirit-birit, tidak jadi mengadakan serangan jarak dekat. Ketika besok paginya saya mengadakan patroli pengejaran mulai di sekitar pos Tanah Merah, sesuai jejak yang kami temukan, ternyata pada kemarin malamnya, musuh bermalam tidak jauh dari pos Tanah Merah, sekitar 500 meter, di seberang lembah. Rupanya musuh tidak tahu, ada satu regu menduduki medan di depan mereka.

Setelah pertempuran selesai, saya cek jumlah anggota, ada dua anggota hilang. Saya bersama yang lain terus mencari mungkin mereka terluka atau gugur. Untung sebelum gelap, dua prajurit ini muncul dan segera memeluk saya. Karena girangnya rupanya begitu musuh membrondong mereka, mereka sempat loncat ke tebing di atas sungai Siglayan dan kebetulan di sana ada sebuah lubang mirip gua, sehingga kedua prajurit ini dapat bersembunyi dengan aman dan mereka tak dapat diketemukan musuh yang berada di atasnya. Melihat bekas tembakan serentak musuh, lokasi di mana terjadi tembak-menembak, semak belukarnya sudah rata seperti dibabat dengan parang.

Karena itu saya menduga, dua orang ini sudah gugur atau tertangkap musuh. Ternyata keduanya selamat, tak ada sehelai bulunya yang tanggal. Dasar nyawanya masih betah tinggal di tubuhnya, dan rupanya belum mau pindah ke akhirat. Dari penelitian selanjutnya, ternyata masih ada satu orang lagi yang hilang, yakni prajurit dua marinir Panut, caraka komandan peleton dua. Empat hari kemudian, jenasahnya diketemukan mengambang di sungai. Malam itu saya menemani regu yang mendapat serangan musuh pada siang harinya, untuk mendorong semangat tempur regu itu. Selamat jalan Panut. Apakah ini arti tali bendera putus waktu penaikan bendera? Jenasah Prajurit marinir Panut dimakamkan juga di TMP Jayasakti Nunukan

Dikutip dari buku Kompi X di Rimba Siglayan

No comments:

Post a Comment